Malausma (KEMENAG) — Utang bukan sekadar persoalan keuangan, melainkan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Malausma, Haji Apikin, S.Ag., dalam kegiatan pembinaan keagamaan di Majelis Taklim (MT) Al-Jamal, Jagamulya, pada Selasa (20/10/2026).
Dalam penyampaiannya, Apikin mengingatkan jemaah bahwa Islam memberikan perhatian serius terhadap persoalan utang-piutang. Setiap utang merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, sehingga umat Islam hendaknya berhati-hati sebelum berutang dan berkomitmen untuk melunasinya.
Ia menjelaskan bahwa berutang untuk memenuhi kebutuhan tertentu tidak serta-merta dilarang dalam Islam. Namun, seseorang harus mempertimbangkan kemampuan membayar, tujuan penggunaan uang, serta konsekuensi yang mungkin timbul agar utang tidak menjadi beban bagi diri sendiri maupun keluarga.
“Utang bukan hanya urusan kita dengan sesama manusia di dunia, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Karena itu, jangan mudah berutang jika tidak benar-benar diperlukan. Jika terpaksa berutang, niatkan untuk melunasi dan tunaikan kewajiban tersebut dengan penuh tanggung jawab,” tutur Apikin.

Ia juga mengajak jemaah untuk membangun kebiasaan hidup sederhana, mengutamakan kebutuhan daripada keinginan, serta membiasakan diri mengelola keuangan secara bijaksana. Menurutnya, sikap jujur dan amanah dalam urusan utang-piutang merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim.
Lebih lanjut, Apikin mengingatkan agar orang yang memiliki utang tidak menunda pembayaran ketika sudah mampu melunasinya. Sebaliknya, pihak yang memberikan pinjaman juga diharapkan mengedepankan sikap saling menolong dan mempertimbangkan kondisi orang yang benar-benar mengalami kesulitan.
“Jangan sampai kita terlihat tenang menjalani kehidupan, tetapi masih mengabaikan kewajiban kepada orang lain. Mari kita jaga kepercayaan, tepati janji, dan selesaikan tanggungan sebaik-baiknya. Sebab, menjaga hak sesama manusia merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan kita,” tambahnya.
Kegiatan pembinaan di MT Al-Jamal Jagamulya ini menjadi pengingat bagi jemaah bahwa nilai-nilai agama perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengelola keuangan dan menjaga hubungan sosial.
Melalui penyuluhan tersebut, Apikin berharap masyarakat semakin bijak dalam mengambil keputusan keuangan, tidak menjadikan utang sebagai kebiasaan konsumtif, serta senantiasa menjaga amanah dan memenuhi kewajiban.
Dengan demikian, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang untuk membangun kesadaran, memperbaiki perilaku, dan menumbuhkan kehidupan masyarakat yang lebih bertanggung jawab, saling menghormati, serta berlandaskan nilai-nilai Islam.
Kontributor: Alif Sinta


Komentar