Berita Daerah KUA

Penyuluh Agama KUA Malausma Ajak Jemaah MT Miftahul Huda Al-Idris Hindari Kejahatan dan Perbuatan Zalim

Malausma (KEMENAG)— Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, dan keburukan yang dilakukan terhadap orang lain dapat berbalik membawa kerugian bagi pelakunya sendiri. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Malausma, Haji Apikin, S.Sos., dalam kegiatan pembinaan keagamaan di Majelis Taklim (MT) Miftahul Huda Al-Idris, Desa Lebakwangi, Kecamatan Malausma, pada Senin (19/10/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Apikin mengangkat tema “Kejahatan Akan Kembali kepada Diri Sendiri”. Ia mengajak jemaah untuk senantiasa menjaga perilaku, lisan, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berinteraksi dengan keluarga maupun di tengah masyarakat.

Menurutnya, kejahatan tidak hanya berupa tindakan besar yang melanggar hukum, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk kebiasaan merugikan orang lain, seperti memfitnah, menyebarkan berita bohong, menggunjing, mengambil hak orang lain, dan menyakiti sesama melalui perkataan maupun perbuatan.

Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 7:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Wakamad Humas MAN 1 Majalengka Hadiri Apel Gabungan Pimpinan Satker Kemenag

Artinya: “Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra: 7).

Ayat tersebut menegaskan bahwa setiap perbuatan manusia membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Kebaikan memberikan manfaat, sedangkan keburukan dapat mendatangkan kerugian, merusak hubungan sosial, dan menjadi sebab pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Dalam penyampaiannya, Haji Apikin mengingatkan bahwa menjaga diri dari perbuatan zalim merupakan bagian penting dari keimanan. Ia mengajak jemaah untuk tidak merasa aman ketika melakukan keburukan hanya karena tidak diketahui orang lain.

“Jangan pernah merasa bahwa kejahatan yang kita lakukan akan hilang begitu saja. Ketika kita menyakiti orang lain, mengambil haknya, atau merusak kehormatannya, sesungguhnya kita sedang menanam keburukan yang akibatnya dapat kembali kepada diri sendiri. Karena itu, mari kita jaga hati, lisan, dan perbuatan agar tidak merugikan sesama,” ungkap Apikin.

Ia juga menekankan pentingnya membiasakan introspeksi diri sebelum menilai kesalahan orang lain. Menurutnya, kehidupan yang tenteram tidak hanya dibangun melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak yang baik, kejujuran, dan kepedulian terhadap hak sesama.

32 Tahun Mengabdi, Euis Nurkomala Jadi Teladan Pendidik di MIN 2 Majalengka

“Jadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam bertindak. Sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, pikirkan apakah tindakan itu membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih mengabaikan akhlak dan hak sesama manusia,” tambahnya.

Melalui pembinaan di MT Miftahul Huda Al-Idris, jemaah diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga perilaku dan menjauhi segala bentuk kejahatan. Pesan keagamaan ini juga menjadi pengingat bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dapat dimulai dari diri sendiri, dari perkataan yang santun, tindakan yang jujur, serta kesediaan memperbaiki kesalahan.

Dengan demikian, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kesadaran moral, memperkuat akhlak, dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis berdasarkan nilai-nilai Islam.

Kontributor: Alif Sinta

MAN 1 dan KUA Jatiwangi Perkuat Kolaborasi Perluas Objek Liputan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *