Malausma (KEMENAG) — Tetangga bukan sekadar orang yang tinggal berdekatan, melainkan saudara yang hadir dalam kehidupan sehari-hari, meskipun tidak memiliki hubungan darah. Nilai kebersamaan, kepedulian, dan saling menolong antartetangga menjadi pesan utama dalam kegiatan penyuluhan agama Islam yang disampaikan Muhammad Syamsul Azhari, S.Hum., di Desa Girimukti, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jumat (9/10/2026).
Dalam penyuluhan tersebut, Syamsul mengajak masyarakat untuk memperkuat kerukunan dan kepedulian sosial di lingkungan tempat tinggal. Menurutnya, hubungan baik dengan tetangga merupakan bagian penting dari pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menjelaskan bahwa tetangga sering kali menjadi orang pertama yang mengetahui ketika seseorang mengalami kesulitan. Kehadiran tetangga yang peduli dapat memberikan pertolongan, dukungan moral, dan rasa aman, bahkan ketika keluarga yang memiliki hubungan darah tinggal berjauhan.
“Tetangga adalah saudara yang tidak sedarah. Mereka merupakan orang-orang terdekat yang bisa menjadi tempat berbagi, saling membantu, dan memberikan pertolongan ketika kita menghadapi kesulitan. Karena itu, jangan sampai kita sibuk menjaga hubungan dengan orang yang jauh, tetapi melupakan orang yang tinggal tepat di samping rumah kita,” ungkap Syamsul.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga hubungan baik dengan tetangga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti menyapa, menjenguk ketika sakit, membantu saat mengalami musibah, menghormati perbedaan, serta tidak mengganggu kenyamanan dan hak orang lain.
Menurutnya, kehidupan bermasyarakat yang harmonis tidak terbentuk hanya melalui kegiatan bersama, tetapi juga melalui kesadaran setiap individu untuk menjaga lisan, sikap, dan perilaku terhadap orang-orang di sekitarnya.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis tentang Tetangga
Pesan mengenai pentingnya berbuat baik kepada tetangga ditegaskan dalam Al-Qur’an, tepatnya Surah An-Nisa ayat 36.
Allah Swt. berfirman:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا
Artinya:
“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. An-Nisa: 36).
Selain itu, Rasulullah saw. menegaskan pentingnya memuliakan tetangga dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ayat dan hadis tersebut menjadi pengingat bahwa berbuat baik kepada tetangga bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga bagian dari ajaran agama yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan penyuluhan ini, Syamsul berharap masyarakat Desa Girimukti semakin menyadari pentingnya menjaga keharmonisan lingkungan, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membangun budaya saling membantu tanpa membedakan latar belakang.
Ia menegaskan bahwa lingkungan yang rukun berawal dari kesediaan setiap orang untuk menghargai dan memperlakukan tetangganya dengan baik.
Sebab, saudara tidak selalu lahir dari rahim yang sama. Terkadang, Allah menghadirkan saudara melalui pintu rumah yang berdampingan.
Kontributor: Alif Sinta


Komentar