Sumberjaya (KEMENAG) — Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Majelis Taklim (MT) Asmaul Husna, Desa Panjalin Kidul, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka, pada Senin (21/9/2026). Kegiatan keagamaan yang dihadiri oleh puluhan jamaah ini berlangsung lancar dengan rangkaian acara yang meliputi hadoroh, pembacaan kitab Al-Barzanji atau marhabanan, tausiyah, dan doa.
Acara diawali dengan tawasul atau hadoroh, dilanjutkan dengan lantunan merdu pembacaan kitab Al-Barzanji atau marhabanan secara bersama-sama, yang menumbuhkan kecintaan mendalam kepada Nabi Muhammad SAW.
Mewakili Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sumberjaya, Penyuluh Agama Islam Hj. Wiwin Asmawiyah, S.Sos.I., hadir memberikan sambutan sekaligus mengisi tausiyah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi yang tinggi kepada para jamaah MT Asmaul Husna yang senantiasa istikamah menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.
“Kami sangat bersyukur dan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh kegiatan keagamaan yang diinisiasi oleh Majelis Taklim Asmaul Husna ini. Apresiasi setinggi-tingginya kami haturkan kepada para jamaah di Desa Panjalin Kidul yang tetap semangat meramaikan majelis ilmu. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahi kita kesehatan dan kesempatan, sehingga kita bisa terus konsisten melaksanakan kegiatan-kegiatan mulia ini,” ujar Wiwin penuh hangat.
Memasuki sesi tausiyah, Hj. Wiwin Asmawiyah, S.Sos.I., menyampaikan materi mendalam mengenai pentingnya muhasabah atau refleksi diri. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan sudah sejauh mana kita mengenal, mencintai, dan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Wiwin mengawali tausiyahnya dengan mengutip ayat Al-Quran dari Surah Al-Ahzab ayat 21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Beliau juga memperkuat pesannya dengan sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengenai esensi cinta kepada Nabi:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lebih lanjut, Wiwin mengajak para jamaah untuk tidak hanya mengenal secara lisan, tetapi juga mengimplementasikan sifat-sifat wajib bagi rasul dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Beliau mengingatkan agar umat Islam senantiasa meneladani empat sifat utama Rasulullah SAW, yakni Shiddiq (jujur dalam perkataan dan perbuatan), Amanah (dapat dipercaya dalam setiap tanggung jawab), Tabligh (menyampaikan kebaikan dan kebenaran), serta Fathanah (cerdas dan bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup).

“Mari kita jadikan sifat-sifat mulia Rasulullah shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah sebagai landasan moral dalam membina keluarga dan bermasyarakat,” pesan Wiwin di hadapan para jamaah.
Melalui pemaparan tersebut, beliau menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW harus dibuktikan dengan mengaplikasikan akhlak mulia beliau dalam keseharian. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan keistiqamahan dalam menuntut ilmu hingga akhir hayat.
Kontributor : Eki Kurniawan


Komentar