Ligung (KEMENAG) — Para Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ligung menunjukkan peran aktifnya dalam mendampingi kegiatan sosial-keagamaan masyarakat. Kehadiran mereka menjadi penguat dimensi spiritual dalam tradisi adat Guar Bumi yang digelar warga Desa Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan adat yang diikuti oleh ratusan warga tersebut diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual dalam menyambut musim tanam pertama. Tim Penyuluh Agama Islam KUA Ligung yang hadir dalam kesempatan tersebut terdiri dari H. Tazkiah Musthofa Al Anshori, S.Sos., Wanci, S.Sos., Nok Anisa, S.H.I., dan Maman Sulaeman, S.Sos. Selain itu, jajaran muspika dan instansi terkait turut meramaikan acara, di antaranya Kanit Bimas Polsek Ligung H. Prana yang mewakili Kapolsek, Sekretaris Kecamatan Ligung Hendri Surento, S.Sos., serta Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ligung Oman Hermawan, S.P.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Ligung Lor, H. Rasmin, menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh warga yang berpartisipasi menyukseskan tradisi turun-temurun ini. Ia menjelaskan bahwa Guar Bumi merupakan sarana berdoa bersama agar para petani memperoleh keselamatan, keberkahan, serta hasil panen yang melimpah.

“Guar Bumi bukan sekadar tradisi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat, memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menghargai alam sebagai wasilah bagi para petani dalam memperoleh rezeki,” ungkap Rasmin.
Dari sisi teknis pertanian, Koordinator BPP Ligung Oman Hermawan, S.P., mengingatkan pentingnya persiapan matang sebelum pengolahan tanah dan penanaman dimulai. Ia mengimbau petani untuk memilih benih unggul serta melakukan tindakan pencegahan hama. Menurut Oman, persiapan yang tepat seperti pemeliharaan bibit berkualitas dan pengendalian hama tikus sejak awal menjadi kunci keberhasilan panen yang optimal.
Kehadiran Penyuluh Agama Islam KUA Ligung dalam hajatan adat ini menjadi bagian dari komitmen untuk menjalin silaturahmi serta memperkuat sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat. Penyuluh agama tidak hanya bertugas melakukan pembinaan keagamaan secara verbal, tetapi juga hadir merawat tradisi lokal agar tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai syariat.

Keterlibatan penyuluh agama makin terasa intens saat rangkaian acara adat tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh H. Tazkiah Musthofa Al Anshori, S.Sos. Melalui lantunan doa tersebut, masyarakat memohon agar seluruh proses pertanian diberikan kelancaran serta membawa kesejahteraan bagi warga desa.
Dihubungi di tempat terpisah, Kepala KUA Kecamatan Ligung, H. Mahmud Ro’i, S.E.I., turut memberikan apresiasinya atas keterlibatan para penyuluh dalam kegiatan bernilai kearifan lokal tersebut. Mahmud Ro’i menegaskan bahwa tradisi luhur yang mengandung nilai positif seperti kebersamaan, kepedulian lingkungan, dan rasa syukur sangat perlu ditumbuhkembangkan.
“Tradisi Guar Bumi hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat rasa syukur kepada Allah Swt. atas nikmat dan rezeki yang diberikan, sekaligus mempererat ukhuwah dan kebersamaan masyarakat. Kita berharap para petani senantiasa diberikan keselamatan, kemudahan, serta hasil panen yang berkah dan bermanfaat bagi kesejahteraan keluarga,” ujar Mahmud Ro’i.
Mahmud Ro’i menambahkan bahwa KUA Ligung akan terus mendukung kegiatan kemasyarakatan yang mampu memelihara kearifan lokal beriringan dengan penguatan spiritualitas warga. Melalui sinergi antara nilai agama dan budaya ini, pembangunan kesejahteraan masyarakat, khususnya di sektor pertanian, diharapkan dapat terwujud secara berkelanjutan.
Kontributor: Maman Sulaeman


Komentar