Talaga (KEMENAG) — Guna mengevaluasi kompetensi profesional, memetakan kualitas pendidik, serta mendorong pemetaan mutu pendidikan secara berkelanjutan, Kementerian Agama menyelenggarakan Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK). Kegiatan AKGTK Madrasah Bidang Studi Bahasa Indonesia Sesi 2 tersebut diikuti oleh jajaran guru rumpun Bahasa Indonesia di Laboratorium Komputer MAN 1 Majalengka, Rabu (7/10/2026).
Rangkaian pelaksanaan tes evaluasi profesional ini berlangsung tertib pada pukul 10.40 hingga 12.40 WIB menggunakan sistem komputerisasi. Dalam asesmen tersebut, para peserta dihadapkan pada 80 butir soal berbasis literasi tinggi yang menuntut ketelitian mengolah informasi, ketajaman menganalisis wacana, serta kecepatan dalam menarik kesimpulan. Alokasi waktu efektif pengerjaan selama 90 menit menuntut para pendidik menerapkan strategi manajemen waktu yang cermat, memprioritaskan soal-soal penalaran kompleks, serta mempertahankan fokus berpikir di bawah tekanan durasi ujian.
Penyelenggaraan AKGTK Madrasah ini dirancang sebagai instrumen refleksi diri sekaligus pemetaan kompetensi pedagogik dan profesional pendidik. Melalui paparan model soal literasi berstandar nasional, para guru dibina agar terbiasa mengadaptasi pola pikir kritis, menyusun strategi manajemen waktu yang adaptif, serta memperluas cakrawala materi guna mendukung transformasi kualitas pembelajaran di kelas.
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia MAN 1 Majalengka, Heni Fauziah Hidayat, S.Pd., menyampaikan bahwa karakter soal literasi dalam AKGTK menjadi ajang uji kecermatan dan pengelolaan durasi.
“Soal-soal yang disajikan berbasis literasi, sehingga kita tidak cukup hanya membaca pertanyaan, tetapi juga harus memahami bacaan, menganalisis informasi, dan menentukan jawaban yang paling tepat. Tantangannya adalah waktu pengerjaan yang terbatas, yaitu 90 menit untuk 80 nomor. Karena itu, kemampuan mengelola waktu menjadi sangat penting agar seluruh soal dapat dikerjakan dengan optimal,” ujar Heni.
Lebih lanjut, beliau menilai bahwa ajang asesmen ini merupakan sarana refleksi yang sangat berharga dalam meningkatkan kapasitas diri sebagai pendidik.
“Bagi saya, AKGTK ini menjadi bahan evaluasi diri sekaligus latihan untuk mengukur kesiapan dan kemampuan pribadi. Dari soal-soal yang dikerjakan, kita dapat mengetahui materi yang sudah dikuasai maupun bagian yang masih perlu dipelajari kembali. Pengalaman ini melatih kita agar lebih terampil membagi waktu dan membiasakan diri menghadapi soal-soal berbasis literasi,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, jajaran pendidik MAN 1 Majalengka akan menjadikan hasil evaluasi AKGTK ini sebagai bahan pemetaaan mandiri dalam Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) guna merancang strategi pembelajaran berbasis literasi yang lebih efektif bagi peserta didik.
Melalui keberlanjutan evaluasi kompetensi pendidik ini, diharapkan dapat memacu peningkatan profesionalisme guru, sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas layanan pendidikan di lingkungan MAN 1 Majalengka.
Kontributor: Wawan Abdul Gani


Komentar