Majalengka (KEMENAG) – Menjelang berakhirnya Tahun Pelajaran 2025/2026, Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) Kabupaten Majalengka menggelar Rapat Dinas Tetap (Radintap) Koordinasi Akhir Tahun. Kegiatan yang dihadiri oleh 15 Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) se-Kabupaten Majalengka ini berlangsung khidmat di Rumah Makan (RM) Nera, Majalengka, pada Rabu (3/6/2026).
Acara diawali dengan sambutan dari Ketua KKMTs Kabupaten Majalengka, Drs. H. Mahmud Saenun, M.Si. Dalam pengantarnya, Mahmud menyampaikan bahwa seluruh agenda strategis organisasi untuk bulan ini telah dimusyawarahkan bersama. Ia juga menegaskan pentingnya arahan langsung dari Kementerian Agama guna menyongsong agenda akhir tahun serta persiapan tahun ajaran baru.
“Seluruh program bulanan sudah kami mufakatkan bersama. Momentum ini sangat penting bagi kami, para Kepala MTsN, untuk menerima arahan dan petunjuk teknis dari Ibu Kepala Kantor, khususnya dalam menghadapi transisi akhir tahun pelajaran menuju tahun ajaran yang baru,” ujar Mahmud.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., dalam arahan utamanya menyoroti beberapa poin evaluasi dan strategi krusial bagi masa depan madrasah negeri di Majalengka.
Inovasi Acara Perpisahan Siswa
Terkait pelaksanaan kegiatan kelulusan dan perpisahan, Euis mengimbau para kepala madrasah untuk tetap berhati-hati dan akuntabel, namun tidak perlu alergi dalam menyelenggarakan acara. Mengaca pada kesuksesan MAN 1 dan MAN 2 Majalengka, perpisahan yang meriah tetap bisa dilakukan tanpa membebani institusi melalui pungutan liar.
“Sampaikan secara transparan kepada orang tua sejak awal bahwa madrasah tidak memungut biaya sepeser pun. Namun, jika ada inisiatif, kreativitas, dan dukungan penuh dari siswa serta orang tua yang dikelola mandiri secara akuntabel oleh mereka, silakan dilaksanakan. Yang terpenting, jaga kondusivitas dan koordinasi,” tegas Euis.
Tantangan PPDB dan Pentingnya Diversifikasi Madrasah
Memasuki periode Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Euis mengingatkan adanya pergeseran tren di masyarakat yang kini mulai melirik sekolah swasta karena keunggulan tertentu. Menjawab tantangan tersebut, ia mendorong setiap MTsN di Majalengka untuk segera melakukan diversifikasi produk pendidikan dan menemukan ciri khas masing-masing.
“Madrasah negeri tidak boleh lagi berjalan secara reguler yang biasa-biasa saja. Harus ada pembeda (diversifikasi). Bidik satu keunggulan lokal, entah itu penguatan program tahfiz, kelas keterampilan, kelas bilingual, Pramuka, Paskibra, atau mencetak atlet olahraga berprestasi. Citra keunggulan inilah yang akan menarik minat masyarakat,” tambahnya.
Di samping itu, Euis juga meminta madrasah untuk cerdas memberikan pemahaman dakwah kepada orang tua murid terkait keterbatasan kuota Program Indonesia Pintar (PIP) agar tidak menjadi batu sandungan dalam menjaring siswa baru.
Gebyarkan Program Ekoteologi
Menutup arahannya, Kepala Kantor Kemenag menekankan kembali amanat dari Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat mengenai implementasi konsep ekoteologi (kepedulian lingkungan berbasis nilai agama). Ia menantang para kepala madrasah untuk menciptakan satu gerakan masif yang berdampak luas.
“Saya menunggu aksi nyata dari Bapak dan Ibu sekalian. Buatlah satu kegiatan ekoteologi yang gebyar dan kolaboratif—bisa berupa penanaman ribuan pohon atau pembersihan fasilitas umum yang bekerja sama dengan pemerintah desa, perguruan tinggi, maupun penyuluh KUA. Ini harus menjadi bukti bahwa madrasah kita peduli pada kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Rapat dinas yang berlangsung hangat ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif dan ramah tamah antarkepala madrasah guna mematangkan teknis implementasi di lapangan.


Komentar