Majalengka (KEMENAG) – Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menggelar rutin kajian kitab kuning. Kali ini, kegiatan membedah Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari, khususnya hikmah ke-172 dan 173, yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas Kantor Kemenag Majalengka, Senin (30/3/2026).
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd., Kepala Kantor Kemenhaj Majalengka, H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., serta Kasubag TU Kemenag Majalengka, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag. Turut hadir jajaran Kepala Seksi, Pengawas Madrasah, Pengawas PAI, serta seluruh pegawai di lingkungan Kemenag dan Kemenhaj Majalengka.
Narasumber utama, Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., yang juga Penyelenggara Zakat Wakaf Kemenag Majalengka, memaparkan tema mengenai “Adab Hamba dalam Berdoa dan Berzikir”. Dalam penjelasannya mengenai hikmah ke-172, ia menyebutkan bahwa bagi kalangan Arifin (orang yang mengenal Allah), terdapat adab untuk tidak terus-menerus meminta (tarkut tholab) karena besarnya rasa hormat dan malu kepada Sang Pencipta.
“Terkadang Allah memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya untuk lebih sibuk berzikir daripada meminta. Hal ini merujuk pada Hadis Qudsi bahwa siapa pun yang sibuk mengingat Allah hingga tidak sempat meminta, maka Allah akan memberinya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang diberikan kepada orang yang meminta,” ujar Ojun.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya berserah diri pada ketetapan Allah (i’timadan ‘ala qismatihi). Menurutnya, Allah Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya melebihi keinginan hamba itu sendiri. “Allah memberikan apa yang kita butuhkan demi keberkahan hidup, bukan sekadar apa yang kita inginkan yang mungkin saja bisa membahayakan diri kita,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kemenhaj Majalengka, H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I., memberikan penguatan terkait skala prioritas dalam beribadah. Ia mengingatkan agar para pegawai tidak terjebak pada fenomena mengutamakan ibadah sunah namun melalaikan yang wajib.
“Sering kali kita melihat orang begitu khusyuk saat salat Tahajud, namun justru tertidur atau terburu-buru saat salat Subuh. Padahal, waktu paling utama untuk berdoa adalah setiap selesai melaksanakan salat fardu,” tegas Abu Mansyur.
Ia juga mencontohkan dalam aspek lain, seperti masyarakat yang lebih mengutamakan umrah berkali-kali namun mengabaikan kewajiban haji, atau rajin bersedekah namun lupa menunaikan zakat mal. “Syariat tetap mendudukkan ibadah wajib di atas ibadah sunah. Selesaikan dulu kewajiban, baru sempurnakan dengan yang sunah,” pungkasnya.
Kajian yang dilaksanakan dalam suasana bulan Syawal ini juga menjadi ajang silaturahmi dan saling memaafkan antarpegawai. Ojun mengingatkan bahwa makna “Syawal” adalah peningkatan. Ia berharap, pasca-Ramadan, kualitas ibadah, amal saleh, serta kinerja ASN Kemenag Majalengka harus mengalami peningkatan yang signifikan.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan keluarga besar Kemenag Majalengka dan kelancaran tugas-tugas kedinasan ke depan.
Kontributor : Endang Mu’min


Komentar
Sangat mantul psn, agar terus di lanjutkan krn kajian sangat bermanfaat khususnya bagi karyawan di lingkungan Kemenag Kab. Mjl. Bravo pa kepala Kemenag Mjl.