Jatiwangi (KEMENAG) — Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., hadir sebagai narasumber utama dalam workshop bertajuk “Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)” yang digelar di MAN 3 Majalengka, Kamis (5/2/2026).
Workshop yang mengusung tema filosofis “Atas Nama Cinta” ini bertujuan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas sebagai fondasi utama dalam praktik pendidikan di lingkungan madrasah.
Dalam pemaparannya, Hj. Euis Damayanti mengupas tuntas Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025. Regulasi ini merupakan perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Raudhatul Athfal (RA) hingga Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
Ia menegaskan bahwa perubahan kebijakan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan langkah strategis untuk memperkuat arah kurikulum madrasah yang lebih humanis, adaptif, dan berkarakter.
”Perubahan dari KMA 450 ke KMA 1503 ini mencakup penyesuaian pada kerangka dasar, muatan, hingga struktur kurikulum. Hal ini dilakukan agar para pendidik memiliki landasan yang kokoh dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara tepat dan kontekstual di madrasah masing-masing,” ujar Euis di hadapan 36 peserta workshop.
Lebih lanjut, Euis mengingatkan bahwa Panca Cinta adalah ruh utama dalam Kurikulum Berbasis Cinta. Beliau menekankan bahwa madrasah tidak boleh hanya terjebak pada rutinitas transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi harus menjadi ruang persemaian karakter dan kepekaan sosial.
”Penerapan nilai-nilai Panca Cinta dalam proses pembelajaran sebagaimana diamanatkan KMA 1503 Tahun 2025 sangatlah krusial. Kita ingin memastikan bahwa setiap aktivitas di kelas mampu menumbuhkan empati dan rasa kasih sayang,” tambahnya.
Menurut Euis, KBC memiliki potensi besar untuk melampaui batas-batas lokal. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta, empati, dan toleransi, kurikulum ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas berbagai persoalan kemanusiaan yang kian kompleks.
”Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya solusi untuk persoalan di tingkat lokal, tetapi juga instrumen untuk menjawab tantangan global. Dengan menanamkan nilai-nilai ini, kita menyiapkan generasi yang mampu menjadi solusi atas konflik sosial, diskriminasi, serta krisis kemanusiaan di era global saat ini,” pungkasnya.
Kegiatan workshop ini diharapkan dapat memberikan pemahaman utuh bagi para pendidik di MAN 3 Majalengka agar mampu menyelaraskan metode pengajaran dengan visi besar Kementerian Agama dalam mencetak generasi yang cerdas secara intelektual namun tetap rendah hati dan penuh cinta.
Kontributor : Dwi Winarti



Komentar