Majalengka (KEMENAG) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka menyelenggarakan Pelatihan Pelayanan Prima pada Kehumasan guna memperkuat kompetensi aparatur dalam mengelola informasi publik. Kegiatan yang berfokus pada standarisasi penulisan berita dan jurnalistik ini berlangsung di Aula Kemenag Majalengka pada Rabu (21/1/2026).
Pelaksana Kehumasan sekaligus Penata Layanan Operasional pada Sub Bagian Tata Usaha (Subbag TU) Kemenag Majalengka, Endang Mu’min hadir sebagai pemateri utama. Peserta kegiatan terdiri dari pengelola kehumasan pada Sekretariat Jenderal (Setjen) dan Satuan Kerja (Satker) Madrasah dan KUA di lingkungan Kemenag Majalengka.
Dalam paparannya, Endang Mu’min menekankan pentingnya efektivitas dalam penulisan judul berita. Ia menjelaskan bahwa judul harus ringkas dan padat, maksimal terdiri dari sembilan hingga sepuluh kata yang merangkum seluruh isi berita secara tegas.
”Gunakan kalimat aktif untuk memberi nyawa pada berita. Hindari kata-kata pasif yang membosankan. Selain itu, penulisan judul wajib menggunakan huruf kapital pada setiap awal kata, bukan menuliskan seluruhnya dengan huruf besar,” ujar Endang.
Terkait struktur teks, ia mengingatkan peserta untuk memperhatikan Teras Berita (Lead). Menurutnya, alinea pertama harus mencerminkan judul dengan minimal mengandung dua unsur utama, yaitu Siapa (Who) dan Apa (What). Jurnalistik yang baik dilarang membuka teras berita dengan keterangan waktu atau tempat.
Endang juga mengupas teknis penulisan nama dan jabatan. Sesuai kaidah jurnalistik baku, penggunaan sapaan seperti “Bapak” atau “Ibu” serta kata ganti “Beliau” harus dihindari dan diganti dengan kata ganti “Ia”. Gelar akademik pun hanya disebutkan secara lengkap pada paragraf pertama, sementara pada paragraf selanjutnya cukup menyebutkan nama saja.
”Untuk menjaga keterbacaan, terutama di media digital, satu paragraf maksimal terdiri dari tujuh baris. Hal ini dilakukan agar informasi yang disampaikan lebih efektif dan mudah dicerna oleh pembaca,” tambahnya.
Memasuki sesi akhir, pelatihan beralih pada materi teknik pengambilan foto dokumentasi kegiatan formal. Endang menjelaskan bahwa foto jurnalistik harus mampu bercerita tanpa perlu banyak kata. Ia membedah kaidah fotografi seperti angle (sudut pandang) yang tepat, komposisi objek, hingga pentingnya menangkap momen-momen krusial dalam kegiatan resmi agar hasil dokumentasi terlihat profesional dan representatif.
Menutup rangkaian acara, Endang mengajak seluruh praktisi humas di lingkungan Kemenag Majalengka untuk terus mengasah keterampilan dan pengetahuan mengenai perkembangan dunia jurnalistik. Ia mendorong para humas Satker untuk selalu berkolaborasi, terutama dalam sinkronisasi publikasi berita dengan media sosial resmi Kemenag Majalengka agar sebaran informasi menjadi lebih masif dan terintegrasi.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar