Majalengka (Humas Kemenag Majalengka) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali memperdalam aspek spiritual pegawainya melalui kajian rutin Kitab Al-Hikam. Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin pagi (5/1/2026) di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Majalengka ini fokus membedah hikmah ke-159 tentang hakikat nafsu dan bahaya penyakit riya.
Kajian yang digelar selepas apel pagi tersebut diikuti dengan khidmat oleh para pejabat struktural dan seluruh pegawai di lingkungan Kemenag Majalengka. Hadir sebagai narasumber utama, Penyelenggara Zakat Wakaf Kemenag Kabupaten Majalengka, Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag.
Dalam paparannya, Ojun menjelaskan kutipan syarah dari Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari mengenai dua wajah nafsu manusia. Ia memaparkan bahwa kesenangan nafsu dalam kemaksiatan bersifat zhahirun jaliyun (terlihat jelas), sementara kesenangan nafsu dalam ketaatan bersifat bathinun khafiyun (samar dan tersembunyi).
Ojun merinci bahwa dalam kemaksiatan—seperti korupsi, perzinaan, atau tindakan kriminal lainnya—pengaruh nafsu sangat nyata dan mudah dikenali. Hal ini sejalan dengan Surah Yusuf yang menyebutkan bahwa nafsu cenderung menyuruh kepada kejahatan (ammaratum bis-su’).
“Nafsu itu ibarat fatamorgana di aspal panas. Terlihat seperti air yang menyejukkan dari jauh, namun saat didatangi justru memberikan rasa panas yang luar biasa,” ujar Ojun memberikan tamsil.
Namun, ia memberikan peringatan keras mengenai pengaruh nafsu dalam aktivitas ibadah atau ketaatan. Menurutnya, nafsu sering kali menyusup secara halus dalam bentuk keinginan untuk dilihat atau dihormati orang lain (riya).
“Ketika kita salat atau berinfak, terkadang muncul bisikan hati agar perbuatan tersebut diketahui orang lain. Bahkan saat sendirian pun, keinginan untuk ‘ketahuan’ sedang beribadah itu bisa muncul. Inilah yang membuat penyakit hati dalam ketaatan sangat sulit diobati karena sifatnya yang samar,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ojun menjelaskan bahwa sifat riya ini dikategorikan sebagai Asy-Syirkul Khafi atau syirik yang tersembunyi. Mengutip sebuah hadis, ia mengibaratkan syirik ini lebih samar daripada semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.
Ketidakjujuran dalam beribadah ini tidak hanya merusak nilai ketaatan, tetapi juga bisa memicu sifat buruk lainnya, seperti merasa tidak dihargai saat orang lain bersikap acuh terhadap ilmu atau posisi sosial yang dimiliki.
Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh jajaran pegawai Kemenag Majalengka senantiasa dilindungi dari nafsu ammarah dan penyakit hati yang sulit terdeteksi. Melalui kegiatan rutin ini, diharapkan integritas pegawai tidak hanya terjaga secara administratif, tetapi juga secara spiritual dalam pengabdian kepada masyarakat.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar