Berita Daerah

Belajar Sejarah Praaksara, Siswa Kelas X MAN 3 Majalengka Kenali Jati Diri Bangsa

Jatiwangi (KEMENAG)– Pembelajaran sejarah tentang kehidupan masyarakat Indonesia pada masa praaksara menjadi sarana bagi siswa kelas X MAN 3 Majalengka untuk mengenal jejak leluhur sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas bangsa. Melalui materi yang diampu Ohan Rohani, S.Pd., siswa diajak memahami nilai kemandirian, gotong royong, dan kemajemukan yang telah tumbuh sejak kehidupan manusia pada masa lampau.

Dalam pembelajaran yang berlangsung Kamis (5/11/2026), siswa mempelajari perkembangan kehidupan masyarakat praaksara, mulai dari penggunaan peralatan batu seperti kapak perimbas dan kapak genggam hingga kemampuan mengolah logam pada masa perundagian.

Materi tersebut tidak hanya membahas perkembangan teknologi sederhana, tetapi juga mengajak siswa memahami bagaimana leluhur beradaptasi dengan alam, mengembangkan keterampilan, dan membangun pola kehidupan sosial. Perjalanan dari berburu dan meramu menuju bercocok tanam serta kehidupan menetap menjadi gambaran tumbuhnya kemandirian masyarakat pada masa itu.

Salah seorang siswa, Mohammad Uwais, mengaku pembelajaran sejarah menjadi lebih menarik karena tidak sekadar berisi hafalan nama dan istilah.

“Awalnya saya mengira sejarah hanya tentang hafalan. Namun, setelah belajar bersama Bapak Ohan Rohani, saya menyadari bahwa leluhur kita ternyata pintar dan mandiri. Mereka mampu membuat berbagai peralatan dari batu meskipun belum memiliki teknologi seperti sekarang,” ungkapnya.

KUA Sukahaji Survei dan Ukur Tanah Wakaf Seluas 213 Meter Persegi di Desa Jayi, Tingkatkan Target Pendataan Wakaf

Sementara itu, Aidha Nisa menilai pembelajaran tersebut memberikan pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan. Menurutnya, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang telah tumbuh sejak dahulu.

“Belajar sejarah membuat saya lebih menghargai perbedaan. Kami memahami bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan, melainkan kekayaan yang perlu dijaga. Karena itu, kita harus saling menghormati dan tidak membeda-bedakan teman,” tuturnya.

Melalui pembelajaran ini, siswa diharapkan tidak hanya memahami peristiwa masa lalu, tetapi juga mampu mengambil nilai-nilai positif untuk kehidupan masa kini. Kemandirian, semangat belajar, kerja sama, dan sikap menghargai keberagaman menjadi pesan penting yang dapat diwariskan dari sejarah kehidupan masyarakat praaksara.

Pembelajaran sejarah pun menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa mengenal masa lalu merupakan salah satu langkah penting dalam memahami jati diri bangsa dan memperkuat rasa cinta Tanah Air.

Kontributor : Firman Saefatullah

Tingkatkan Kualitas Pembelajaran, Supervisor MAN 1 Majalengka Gelar Supervisi Guru PKN

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *