Berita Daerah MAN

Dari Gregor Samsa, Siswa MAN 3 Majalengka Bicara tentang Hilangnya Sisi Kemanusiaan

Jatiwangi (KEMENAG) — Seekor serangga, sebuah kamar, dan seorang manusia yang perlahan kehilangan tempat di tengah keluarganya. Dari kisah sederhana itulah Radiyana Nurmaulida Sopian, siswa kelas XII Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka, mengajak peserta Lomba Resensi Buku Koleksi Perpustakaan Tingkat Kabupaten Majalengka melihat kembali arti menjadi manusia.

Dalam lomba yang berlangsung di MAN 3 Majalengka, Kamis (13/8/2026), Radiyana tidak sekadar menceritakan kembali isi buku. Ia membawa peserta menyelami tragedi Gregor Samsa dalam Die Verwandlung (The Metamorphosis) karya Franz Kafka melalui ulasan bertajuk “Menyingkap Tragedi Dehumanisasi dalam Metamorfosis”.

Di tangan Radiyana, kisah Gregor Samsa tidak berhenti pada perubahan seorang manusia menjadi serangga. Ia membaca metamorfosis itu sebagai gambaran tentang manusia yang perlahan kehilangan penghargaan terhadap dirinya ketika hanya dinilai berdasarkan fungsi, pekerjaan, dan manfaat bagi orang lain.

Penampilannya menjadi menarik karena buku klasik yang ditulis Kafka dibawa ke dalam persoalan yang terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Radiyana mengajak pendengar bertanya: apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi dianggap berharga karena ia tidak mampu memenuhi harapan lingkungannya?

Pertanyaan itulah yang membuat resensinya tidak sekadar berbicara tentang sebuah buku. Ia menghubungkan sastra dengan persoalan kemanusiaan, tekanan kehidupan, keterasingan, serta pentingnya menjaga empati terhadap orang lain.

Lestarikan Budaya dan Nilai Sejarah, Warga Desa Gunung Kuning Gelar Ziarah Makam Raden Mas Lumpi

Bagi Radiyana, membaca bukan sekadar menyelesaikan halaman demi halaman. Buku dapat menjadi pintu untuk memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Sebagai anggota ekstrakurikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka, kemampuan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana budaya membaca dapat berkembang menjadi kemampuan menyampaikan gagasan secara kritis dan komunikatif.

Kepala MAN 3 Majalengka mengapresiasi keberanian siswanya mengangkat isu dehumanisasi melalui karya sastra. Menurutnya, literasi akan menjadi semakin bermakna ketika siswa mampu menemukan pesan di balik bacaan dan menghubungkannya dengan realitas kehidupan.

“Literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi kemampuan memahami makna dan mengambil hikmah untuk kehidupan. Ketika siswa mampu membaca sebuah karya sastra lalu menghubungkannya dengan persoalan kemanusiaan, di situlah literasi menjadi lebih hidup dan transformatif,” ujarnya.

Lomba resensi buku tersebut pun menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan bahwa perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Dari rak-rak buku, lahir gagasan, pertanyaan, bahkan keberanian untuk membicarakan persoalan yang lebih besar.

MTsN 10 Majalengka Kirim Tujuh Siswa Ikuti OMI 2026

Apa yang disampaikan Radiyana tentang Gregor Samsa pada akhirnya membawa pesan sederhana: kemajuan tidak akan berarti jika manusia kehilangan kepedulian terhadap sesamanya.

Dari sebuah karya sastra yang ditulis lebih dari seabad lalu, seorang siswa madrasah menemukan cara untuk berbicara kepada generasinya. Bahwa di tengah dunia yang semakin cepat, manusia tetap membutuhkan satu hal yang tidak boleh hilang—kemampuan untuk melihat, memahami, dan menghargai manusia lainnya.

Kontributor : Firman Saefatullah

Keputrian MTsN 7 Majalengka Jadi Ruang Tumbuh Siswi Bekal Ibadah, Karakter, dan Kesehatan Mental

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *