Jatiwangi (KEMENAG) — Hari-hari pertama memasuki Madrasah Aliyah selalu menghadirkan beragam perasaan bagi peserta didik baru. Ada yang datang dengan semangat menggebu, ada pula yang masih menyimpan rasa canggung, khawatir, bahkan belum mengenal lingkungan barunya. Di tengah suasana itu, Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MAN 3 Majalengka, Iyum Tsamratul Ainil Alawiyah, S.Pd., hadir menyambut siswa kelas X melalui layanan orientasi Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada Senin (3/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun hubungan yang positif antara guru BK dan peserta didik. Dengan pendekatan yang komunikatif, siswa diajak mengenal lingkungan madrasah sekaligus memahami bahwa mereka memiliki tempat yang aman untuk berbagi cerita, mengembangkan potensi, dan merencanakan masa depan.
Mengubah Cara Pandang tentang Bimbingan dan Konseling
Suasana kelas berlangsung hangat ketika Iyum mengawali kegiatan dengan mengajak peserta didik menyampaikan pandangan mereka mengenai Bimbingan dan Konseling. Beragam jawaban pun muncul. Sebagian siswa masih beranggapan bahwa BK identik dengan pelanggaran tata tertib, sementara yang lain memandangnya sebagai tempat memperoleh nasihat.
Melalui dialog yang interaktif, Iyum meluruskan persepsi tersebut. Ia menjelaskan bahwa layanan BK merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang hadir untuk mendampingi seluruh peserta didik berkembang secara optimal dalam aspek pribadi, sosial, akademik, maupun perencanaan karier.
“BK bukan ruang untuk menghakimi atau menghukum. BK adalah ruang yang aman bagi siswa untuk berdiskusi, menemukan solusi, dan mengembangkan potensi terbaik yang mereka miliki,” ungkap Iyum.
Membangun Kedekatan Sejak Hari Pertama
Tidak hanya menyampaikan materi, Iyum juga memperkenalkan diri dan membuka ruang komunikasi yang akrab bersama peserta didik. Melalui perkenalan tersebut, siswa diharapkan tidak lagi merasa sungkan ketika membutuhkan pendampingan ataupun konsultasi selama menjalani proses belajar di madrasah.
Pendekatan yang hangat menjadi bagian dari upaya membangun rasa percaya antara guru BK dan peserta didik sejak awal tahun pelajaran. Dengan demikian, layanan BK diharapkan hadir sebagai sahabat yang siap mendampingi setiap perjalanan belajar siswa.
Menulis Harapan, Mengenali Kekhawatiran
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta didik adalah refleksi bertajuk “Harapan dan Kekhawatiran”. Pada kegiatan ini, siswa diminta menuliskan impian yang ingin diwujudkan selama belajar di MAN 3 Majalengka sekaligus berbagai kekhawatiran yang mereka rasakan saat memasuki jenjang pendidikan baru.
Beragam harapan tertuang dalam lembar refleksi, mulai dari keinginan meraih prestasi akademik, mengembangkan keterampilan, diterima di perguruan tinggi impian, hingga memperoleh banyak teman baru. Di sisi lain, muncul pula kekhawatiran mengenai kemampuan beradaptasi, tuntutan belajar yang lebih tinggi, serta rasa takut tidak mampu memenuhi harapan orang tua.
Bagi guru BK, catatan sederhana tersebut menjadi gambaran awal kebutuhan peserta didik sekaligus dasar dalam menyusun layanan pendampingan yang lebih tepat sasaran.
BK Hadir Mengantarkan Siswa Meraih Mimpi
Sebagai Madrasah Aliyah Plus Keterampilan dan Riset, MAN 3 Majalengka tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, keterampilan vokasional, dan budaya riset, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pembinaan karakter serta kesehatan mental peserta didik.
Melalui layanan Bimbingan dan Konseling, madrasah berupaya memastikan setiap siswa memperoleh pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Kehadiran BK menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mendorong lahirnya generasi yang percaya diri, tangguh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Bagi siswa kelas X, pertemuan perdana bersama guru BK bukan sekadar agenda pengenalan layanan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi awal perjalanan untuk mengenal diri, membangun mimpi, dan meyakini bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri dalam menggapai cita-cita.
Kontributor : Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)


Komentar