Berita Daerah
Beranda » Berita » Kebersamaan dalam Kebangsaan Harus Diikhtiari: Catatan Guru MAN 3 Majalengka atas Dzikir Kebangsaan

Kebersamaan dalam Kebangsaan Harus Diikhtiari: Catatan Guru MAN 3 Majalengka atas Dzikir Kebangsaan

Jakarta (KEMENAG) — Guru MAN 3 Majalengka, Firman Saefatullah, M.Pd., menyampaikan analisis kritis dan refleksinya terkait pelaksanaan Dzikir Kebangsaan yang digelar di Monumen Nasional (Monas), Senin (3/8/2026). Dalam pandangannya, kegiatan keagamaan berskala nasional tersebut bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum penting untuk merawat persatuan bangsa di tengah derasnya arus era digital.

Menurut Firman, fenomena Dzikir Kebangsaan perlu dibaca lebih jauh dari sekadar seremoni. Ia menilai kegiatan ini merepresentasikan upaya kolektif masyarakat sipil dan negara dalam merawat kohesi sosial yang belakangan mendapat tekanan dari berbagai arah, mulai dari polarisasi politik hingga distorsi informasi di ruang digital.

“Persatuan bangsa tidak lahir dari sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia adalah hasil dari ikhtiar yang harus terus diupayakan secara konsisten, dan Dzikir Kebangsaan hadir sebagai salah satu ikhtiar itu,” ujar Firman.

Ruang Spiritual sebagai Penyeimbang Disinformasi

Dalam catatannya, Firman menyoroti bahwa derasnya arus disinformasi dan cepatnya polarisasi opini di media sosial menuntut adanya ruang-ruang perjumpaan yang menyejukkan. Ruang seperti inilah, menurutnya, yang mampu dihadirkan oleh kegiatan spiritual berskala nasional semacam Dzikir Kebangsaan.

Plt Kepala KUA Cigasong Baru Awali Tugas dengan Perkenalan Bersama Pegawai

“Di tengah arus digital yang begitu masif, Dzikir Kebangsaan menjadi momentum reflektif untuk merajut kembali tali persaudaraan dan mendinginkan suasana,” katanya.

Ia menambahkan, nilai strategis dari fenomena ini terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman kolektif yang menenangkan di tengah kegaduhan wacana publik — sebuah kebutuhan yang menurutnya semakin mendesak seiring meningkatnya intensitas perdebatan di ruang digital.

Dari Monas ke Ruang Kelas: Transformasi Nilai

Firman menegaskan, catatan penting dari fenomena ini bukan hanya pada penyelenggaraannya di Monas, melainkan bagaimana nilai-nilai kesejukan dan keharmonisan yang dipancarkan dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan dan ruang digital.

Sebagai tindak lanjut dari refleksi tersebut, pihak pendidik di lingkungan MAN 3 Majalengka berkomitmen untuk terus mengintegrasikan pesan-pesan perdamaian, moderasi beragama, dan literasi digital yang bijak kepada para siswa di ruang kelas.

Kokurikuler MTsN 7 Majalengka Tanamkan Kepedulian Lingkungan melalui Gerakan Penghijauan di Depan Kelas

“Nilai-nilai yang lahir dari peristiwa besar seperti ini harus kita jemput dan hadirkan kembali dalam skala yang lebih kecil, di kelas-kelas kita, agar dampaknya benar-benar terasa dalam keseharian generasi muda,” ujarnya.

Melalui narasi positif dan refleksi kebangsaan ini, diharapkan lahir harmonisasi kebaikan yang berdampak nyata bagi keselamatan dan kemakmuran Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekaligus mendukung penguatan peran Kementerian Agama dalam merawat kerukunan umat.

Kontributor : Firman Saefatullah (Humas MAN 3 Majalengka)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *