Leuwimunding (Kemenag) – Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 1 Majalengka menggelar kegiatan In-House Training (IHT) Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Aula MTsN 1 Majalengka, Rabu (29/7/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi para kepala madrasah dan guru dalam menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna, humanis, dan beretika.
Acara diawali dengan sesi pembukaan dan sambutan dari Kepala MTsN 1 Majalengka, Suratno, S.Pd., M.Pd., selaku tuan rumah penyelenggara. Dalam sambutannya, Suratno menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta.
“Selamat datang dan selamat mengikuti IHT bagi seluruh kepala madrasah dan jajaran guru di lingkungan KKMTs 1 Majalengka. Kami menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam fasilitasi dan penyelenggaraan kegiatan ini,” ujar Suratno.
Kegiatan IHT ini menghadirkan narasumber utama Dr. Hj. Emma Himayaturohmah, M.Ag., selaku Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Bandung. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., yang hadir didampingi Pengawas Pembina, Drs. H. Saeful Uyun.
Dalam pengarahannya, Dr. H. Heru Hoerudin menegaskan bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta sangat krusial di tengah tantangan zaman saat ini. Beliau memaparkan tiga alasan mendasar pentingnya penguatan nilai cinta dalam dunia pendidikan:
- Lanskap Sosial-Politik: Maraknya pemberitaan terkait tindakan kekerasan di lingkungan masyarakat maupun satuan pendidikan yang membutuhkan penanganan preventif berbasis pendekatan kasih sayang.
- Orientasi Tujuan Pendidikan: Pendidikan tidak boleh sekadar tunduk pada logika pasar yang hanya mengejar keterampilan teknis, melainkan harus membentuk lulusan yang memiliki nilai (value) dan hati nurani.
- Kompas Etik Ilmu Pengetahuan: Orang cerdas tanpa hati nurani jauh lebih berbahaya dibandingkan orang biasa yang memiliki karakter dan etika yang baik.
“Cinta adalah ruh dari pendidikan. Sebagaimana pandangan Prof. Ahmad Tafsir, salah satu syarat utama menjadi guru adalah mencintai muridnya. Kurikulum hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai setumpuk materi, melainkan dijadikan pengalaman belajar yang berkesan bagi peserta didik,” tegas Heru.
Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh wawasan teoretis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya secara nyata dalam interaksi pembelajaran sehari-hari di madrasah.
Sebagai tindak lanjut, para pendidik di lingkungan KKMTs 1 Majalengka didorong untuk terus mentransformasi metode mengajar agar lebih ramah, berkarakter, dan berorientasi pada pembentukan akhlak mulia. Penyelenggaraan IHT ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan citra layanan Kementerian Agama Kabupaten Majalengka bagi masyarakat.
Kontributor: Pipit Laila Fitri
Editor: Dwi Winarti


Komentar