Jatiwangi (KEMENAG) — Pagi di Lapangan Upacara Bendera MAN 3 Majalengka terasa berbeda pada Kamis (23/7/2026). Di bawah cerahnya mentari pagi, ratusan siswa telah berbaris rapi. Namun, bukannya menunggu di panggung atau podium, deretan guru dan tenaga kependidikan justru melangkahkan kaki, berjalan menyusuri tiap barisan untuk mendatangi para murid secara langsung.
Menyapa dengan Hati di Pagi Hari
Momen salaman langsung ini diselenggarakan secara khusus dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Dengan penuh kehangatan, para pendidik menghampiri satu per satu siswa di barisan mereka, menjabat tangan, serta memberikan ucapan selamat Hari Anak Nasional secara personal. Langkah guru yang aktif mendekat ini seketika mencairkan kekakuan, menggantikannya dengan senyum sumringah dan rasa bangga di wajah para siswa.
Gema sapaan hangat dan tawa renyah membahana di sudut-sudut lapangan. Bagi para siswa, gestur guru yang mau turun langsung mendatangi barisan mereka memberikan kesan yang sangat mendalam. Kebiasaan apel yang biasanya diisi dengan pemeriksaan disiplin searah, pagi itu berubah menjadi ruang apresiasi dan kasih sayang yang menyentuh hati.
Bahasa Kasih dalam Bentuk Jabat Tangan
Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., yang turut berjalan menyusuri barisan murid, mengungkapkan bahwa aksi mendatangi dan menyalami siswa ini memuat pesan mendalam tentang kerendahan hati dan kepedulian tenaga pendidik. Menurutnya, gestur sederhana ini ampuh meruntuhkan sekat pemisah serta membangun rasa saling percaya antara murid dan guru.
“Melalui momen Hari Anak Nasional ini, kami ingin menghadirkan suasana belajar yang ramah, hangat, dan inklusif. Menyalami dan memberikan ucapan selamat secara langsung dengan mendatangi mereka di barisan adalah bentuk apresiasi nyata kami atas keberadaan mereka sebagai generasi penerus bangsa,” ungkap Ela Nurlaela penuh kehangatan di sela-sela kegiatan.
Ia menambahkan bahwa karakter anak dipengaruhi besar oleh bagaimana mereka diperlakukan di lingkungan sekolah. Ketika guru mengambil inisiatif untuk mendekat dan menyapa terlebih dahulu, anak-anak akan merasa didengar, diakui, dan dihargai, sehingga motivasi belajar mereka tumbuh secara alami.
Memperkuat Fondasi Madrasah Ramah Anak
Aksi sederhana namun penuh makna ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Momen salaman langsung dengan menyusuri barisan murid ini dirancang sebagai titik awal penguatan program Madrasah Ramah Anak (MRA) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka. Ke depan, pendekatan pembimbingan siswa berbasis empati dan kasih sayang akan terus diperkuat secara konsisten.
Integrasi nilai-nilai kehumanisan ini juga menjadi cerminan transformasi budaya kerja ASN Kementerian Agama, di mana pelayanan pendidikan tidak hanya berorientasi pada ketertiban administratif, tetapi juga pada kehangatan interaksi dan kesejahteraan mental para peserta didik.
Sentuhan kehangatan melalui interaksi langsung ini diharapkan mampu menciptakan iklim belajar yang lebih humanis dan kondusif bagi tumbuh kembang mental serta emosional siswa. Langkah kecil para guru di lapangan madrasah ini sekaligus menegaskan komitmen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka untuk senantiasa menghadirkan layanan pendidikan keagamaan yang responsif, peduli, dan berorientasi pada masa depan anak.
Kontributor : Firman Saefatullah (MAN 3 Majalengka)


Komentar