Jatiwangi (Kemenag) — MTsN 2 Majalengka melaksanakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di lingkungan madrasah, Kamis (1/10/2026). Kepala MTsN 2 Majalengka, Agus Shaleh Yahya, S.Ag., M.Pd.I., bertindak sebagai pembina upacara dan mengajak seluruh siswa untuk tidak sekadar mengenang sejarah, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam amanatnya, Kepala madrasah mengajak seluruh peserta upacara untuk mengenang peristiwa 30 September 1965 serta perjuangan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Ia menyampaikan bahwa perjalanan bangsa Indonesia tidak terlepas dari berbagai gangguan dan rongrongan yang berupaya menggantikan ideologi Pancasila.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, menurutnya, menjadi momentum bagi generasi muda untuk memahami sejarah sekaligus menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Siswa sebagai generasi penerus bangsa memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan nilai tersebut melalui perilaku sehari-hari.
“Sebagai siswa, sebagai anak bangsa, sebagai generasi penerus, kewajiban kita adalah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Agus.
Ia kemudian mengaitkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan penguatan keimanan dan ketakwaan. Salah satu bentuk pengamalannya di lingkungan madrasah, menurut Agus, adalah melaksanakan ibadah salat, termasuk salat Zuhur berjamaah.
“Kalau kita mengaku dan ingin membuktikan keyakinan kita yang berketuhanan, maka salah satunya adalah melaksanakan salat. Ketika azan Zuhur sudah dikumandangkan, segera hentikan aktivitas dan tunaikan panggilan Allah” pesannya kepada para siswa.
Selanjutnya, Agus menekankan pentingnya mengamalkan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, melalui sikap saling menghormati dan menghargai sesama. Ia secara khusus mengingatkan siswa agar tidak melakukan perundungan atau bullying, baik melalui ucapan maupun tindakan.
Menurutnya, setiap siswa harus menyadari bahwa teman merupakan bagian dari keluarga dan memiliki perasaan yang harus dihormati. Karena itu, perbedaan fisik maupun kondisi lainnya tidak boleh menjadi alasan untuk menghina atau merendahkan orang lain.
“Tidak boleh mem-bully, baik secara lisan maupun perbuatan. Kita wajib saling menghargai dan saling menghormati,” tegasnya.
Sementara itu, dalam mengamalkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, Agus mengajak siswa membangun budaya gotong royong dan saling membantu di lingkungan madrasah. Salah satu bentuk sederhananya adalah kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
Ia mengingatkan siswa agar tidak membiarkan sampah berserakan. Ketika melihat sampah, siswa diharapkan memiliki kesadaran untuk segera mengambil dan membuangnya pada tempat yang telah disediakan.
“Kalau ada sampah berserakan, segera diambil. Tidak boleh dicuekin atau dibiarkan begitu saja. Kita wajib bergotong royong dan saling membantu,” ungkapnya.
Melalui peringatan Hari Kesaktian Pancasila, MTsN 2 Majalengka menjadikan momentum sejarah tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter siswa. Nilai Pancasila diharapkan tidak berhenti pada pemahaman di dalam pembelajaran, tetapi diwujudkan melalui sikap religius, saling menghormati, menjauhi perundungan, bergotong royong, dan peduli terhadap lingkungan madrasah.
Kontributor Rika Gayatri


Komentar