Majalengka (KEMENAG) — Kajian rutin Kitab Al-Hikam yang diselenggarakan setiap Senin pagi di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka kembali mengajak peserta memperdalam pemahaman tentang kehidupan, keimanan, dan cara menyikapi ujian. Pada Senin (19/10/2026), Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., membahas hikmah ke-229 dan ke-230 yang mengingatkan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat menempa keimanan sebelum manusia kembali kepada Allah SWT.
Dalam kajian tersebut, Ojun mengajak peserta memahami bahwa kehidupan dunia tidak selalu berjalan sesuai harapan. Di balik kenikmatan yang dirasakan, terdapat berbagai ujian, kesulitan, dan keadaan yang menguji keteguhan hati. Pemahaman ini penting agar seseorang tidak menjadikan urusan dunia sebagai satu-satunya tujuan hidup, tetapi tetap menempatkan kehidupan akhirat sebagai orientasi utama.
Mengulas hikmah ke-229, Ojun menyampaikan pesan tentang hakikat dunia sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Al-Hikam: “Sungguh Allah SWT hanya menciptakan dunia sebagai tempat ujian-ujian dan sumber berbagai kekeruhan, supaya membuatmu benci padanya.”
Pesan tersebut mengandung ajakan untuk melihat kehidupan dunia secara proporsional. Dunia memiliki berbagai hal yang dapat dinikmati dan diusahakan, tetapi di dalamnya juga terdapat persoalan, ketidakpastian, serta ujian yang tidak dapat dihindari. Karena itu, manusia perlu menjaga hati agar tidak terlalu terpaut pada kenikmatan duniawi hingga melupakan tujuan hidup yang lebih utama.
Ojun menjelaskan bahwa salah satu sikap yang perlu ditumbuhkan untuk menghadapi keadaan tersebut ialah zuhud. Zuhud mengajarkan seseorang untuk tidak diperbudak oleh kepemilikan dan kenikmatan dunia.
“Dunia hendaknya kita sikapi sebagai titipan dan wasilah untuk menyempurnakan bekal menuju akhirat,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Pembahasan kemudian berlanjut pada hubungan antara keimanan dan ujian kehidupan. Menurut Ojun, ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan manusia dalam memperkuat iman. Ojun mengibaratkan kondisi tersebut seperti pohon yang semakin tinggi, semakin besar pula terpaan angin yang harus dihadapinya.
Perumpamaan itu menggambarkan bahwa semakin kuat seseorang berusaha menjaga keimanan dan menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama, semakin besar pula tantangan yang mungkin dihadapinya. Tantangan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk melatih kesabaran, memperbaiki diri, dan memperkuat ketergantungan kepada Allah SWT.
Bagi orang yang memiliki keyakinan kuat, ujian tidak semata-mata dipandang sebagai kesulitan yang harus dikeluhkan. Ujian juga dapat menjadi pengingat agar manusia kembali mendekat kepada Allah, mengevaluasi diri, serta memperbaiki sikap dan perilakunya.
Pemahaman tersebut menjadi penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi aparatur sipil negara (ASN) yang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Dalam pekerjaan, setiap orang dapat menghadapi tekanan, perbedaan pendapat, tanggung jawab yang berat, maupun hasil yang tidak selalu sesuai harapan. Nilai kesabaran dan keteguhan iman dapat menjadi bekal untuk menghadapi situasi tersebut secara bijaksana tanpa kehilangan integritas dan tanggung jawab.
Kajian dilanjutkan dengan pembahasan hikmah ke-230 yang menyoroti kenyataan bahwa nasihat tidak selalu cukup untuk menyadarkan seseorang. Dalam penjelasan Ojun, ada kalanya seseorang baru benar-benar memahami makna sebuah nasihat setelah mengalami kesulitan atau merasakan akibat dari pilihan dan tindakannya.
Pesan hikmah tersebut mengingatkan bahwa ujian dapat menghadirkan pelajaran yang tidak selalu diperoleh melalui kata-kata. Pengalaman menghadapi kesulitan terkadang mendorong seseorang untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan hidup, dan menyadari hal-hal yang sebelumnya luput dari perhatian.
Ojun menegaskan bahwa anugerah Allah SWT tidak hanya hadir melalui kenikmatan, kemudahan, dan keberhasilan. Ujian serta cobaan juga dapat menjadi jalan pembelajaran bagi manusia untuk mengenali kelemahan dirinya, memperbaiki kesalahan, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Melalui kajian rutin Kitab Al-Hikam, nilai-nilai tasawuf diharapkan semakin dekat dengan kehidupan nyata para peserta. Ajaran tentang zuhud, kesabaran, dan makna ujian dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan secara seimbang: bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berikhtiar, tetapi tetap menjaga hati agar tidak terikat berlebihan pada urusan dunia.
Pesan utama dari hikmah ke-229 dan ke-230 mengajak setiap orang untuk tidak hanya bersyukur ketika menerima nikmat, tetapi juga belajar mengambil hikmah ketika menghadapi kesulitan. Dengan cara pandang tersebut, setiap pengalaman hidup dapat menjadi ruang untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan kesadaran bahwa kehidupan dunia adalah perjalanan menuju kehidupan akhirat.
Kontributor: D.Win


Komentar