Talaga (KEMENAG) — Siswi kelas XII.6 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Majalengka memanfaatkan waktu istirahat sekolah dengan memainkan permainan tradisional boy-boyan di lapangan utama madrasah pada Kamis (15/10/2026). Aktivitas ini menjadi sarana positif untuk mengisi waktu luang tanpa bergantung pada gadget, sekaligus sebagai upaya melestarikan warisan budaya lokal di lingkungan pelajar.
Suasana keakraban dan keceriaan terlihat jelas saat para siswi terbagi menjadi beberapa kelompok. Permainan boy-boyan yang mengandalkan ketangkasan, kerja sama, dan strategi ini diawali dengan melemparkan bola kecil untuk menjatuhkan susunan pecahan genting atau benda pipih, kemudian para pemain saling berkoordinasi untuk menyusunnya kembali sembari menghindari lemparan bola dari tim lawan.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecenderungan remaja yang kerap menghabiskan waktu istirahat dengan bermain ponsel atau media sosial, inisiatif para siswi kelas XII.6 ini membawa kesegaran tersendiri. Aktivitas fisik secara langsung ini tidak hanya menghadirkan hiburan yang sehat, tetapi juga melatih kekompakan serta mempererat silaturahmi antarsiswa.
Salah satu siswi kelas XII.6, Ridha Rayseila Khoirunnisa, mengungkapkan rasa senang dan antusiasmenya saat memainkan permainan tradisional tersebut bersama teman-teman sekelasnya. Menurutnya, memilih bermain boy-boyan memberikan pengalaman berinteraksi yang jauh lebih berkesan dibandingkan sekadar menatap layar ponsel.
“Memainkan boy-boyan di waktu istirahat sangat seru dan menyenangkan. Selain bisa bergerak aktif dan tertawa bersama teman-teman secara langsung, kami juga merasa bisa melepaskan penat dari rutinitas belajar tanpa harus selalu melihat gadget,” ujar Ridha di sela-sela kegiatan.
Langkah sederhana ini menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya Indonesia yang sarat akan nilai kebersamaan, sportivitas, dan gotong royong tidak selalu harus diwujudkan melalui acara seremonial besar, melainkan dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari di lingkungan madrasah.
Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi seluruh pelajar di Kabupaten Majalengka agar lebih bijak dan proporsional dalam memanfaatkan teknologi. Dengan membiasakan interaksi langsung dan menghidupkan kembali berbagai permainan tradisional di sekolah, lingkungan madrasah tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi serta kepedulian terhadap kelestarian budaya bangsa. Diharapkan kebiasaan positif ini turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan karakter di lingkungan MAN 1 Majalengka.
Kontributor : Wawan abdul Gani


Komentar