Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas XII.9 MAN 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia dengan materi “Analisis Nilai Kehidupan dalam Film Pendek”. Kegiatan pembelajaran yang dibimbing oleh Yulia Ningsih, S.Pd. pada Rabu (21/10/2026) ini bertujuan mengembangkan kemampuan murid dalam memahami pesan, mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan, serta menghubungkan isi tayangan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, murid mempelajari cara menganalisis film pendek sebagai salah satu karya audiovisual yang menyampaikan cerita, gagasan, dan pesan melalui tokoh, dialog, alur, serta konflik. Melalui pengamatan terhadap unsur-unsur tersebut, murid diarahkan untuk menemukan nilai kehidupan yang terkandung dalam cerita.
Nilai kehidupan dalam film pendek dapat mencakup nilai moral, sosial, agama, budaya, dan pendidikan. Nilai moral berkaitan dengan baik atau buruknya perilaku tokoh, sedangkan nilai sosial berhubungan dengan interaksi dan kepedulian antarmanusia. Nilai agama tercermin melalui sikap yang sesuai dengan ajaran kepercayaan, sementara nilai budaya dan pendidikan berkaitan dengan tradisi, pengetahuan, serta proses pembentukan karakter.
Dalam menganalisis film pendek, murid tidak hanya dituntut untuk menceritakan kembali isi tayangan, tetapi juga memberikan penafsiran berdasarkan bukti yang terdapat dalam cerita. Dialog tokoh, tindakan, konflik, dan penyelesaian masalah menjadi unsur penting untuk mendukung hasil analisis. Dengan demikian, murid dapat membedakan antara pendapat pribadi dan kesimpulan yang memiliki dasar jelas.
Guru Bahasa Indonesia, Yulia menekankan pentingnya kemampuan memahami pesan dalam sebuah karya agar murid dapat mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan mereka.
“Melalui analisis nilai kehidupan dalam film pendek, murid diharapkan tidak hanya mampu memahami jalan cerita, tetapi juga menemukan pesan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Saya ingin murid belajar berpikir kritis, menyampaikan pendapat berdasarkan bukti, serta menerapkan nilai-nilai positif yang ditemukan dalam film ke dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Yulia.
Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan keterampilan menyimak, membaca secara kritis, berdiskusi, dan menyampaikan hasil analisis secara sistematis. Selain memperkuat kemampuan berbahasa, kegiatan tersebut juga mendorong tumbuhnya empati, sikap reflektif, dan kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.
Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan kreatif, MAN 2 Majalengka terus berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Diharapkan, murid tidak hanya mampu mengapresiasi karya audiovisual, tetapi juga menjadikan pesan positif di dalamnya sebagai inspirasi untuk membangun karakter dan menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Kontributor: Reni Tania Nurmala


Komentar