Berita

Bantuan Juz Amma, Iqra, dan Al-Qur’an bagi Anak-Anak Mengaji di Tengah Musibah

Talaga (KEMENAG) – Musibah kebakaran yang melanda Musala Miftahul Falah tidak memadamkan semangat Euis Rohmawati, S.Sos.I., Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Malausma, dalam membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an. Meski harus mengajar di tempat sementara, ia tetap istiqomah melanjutkan kegiatan mengaji di kediamannya di Desa Cibeureum, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka.

Pada Selasa (13/10/2026), seperti hari-hari biasanya, Euis kembali membuka kegiatan pembelajaran Al-Qur’an selepas salat Magrib. Setelah menuntaskan tugas kedinasan di KUA dan pulang sekitar pukul 16.00 WIB, ia memanfaatkan waktu di rumah untuk mempersiapkan diri menyambut anak-anak yang datang belajar mengaji.

Bagi Euis, mengajarkan Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan tambahan setelah bekerja, melainkan bagian dari pengabdian untuk menanamkan kecintaan terhadap kitab suci sejak usia dini. Ia ingin memastikan bahwa musibah yang terjadi tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk terus belajar dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an.

Sebelumnya, Musala Miftahul Falah mengalami kebakaran yang diduga disebabkan oleh korsleting listrik. Peristiwa tersebut membuat kegiatan mengaji yang biasa dilaksanakan di musala harus berpindah sementara ke rumah Euis. Di tengah keterbatasan tempat, ia tetap berupaya menjaga keberlangsungan pembelajaran, khususnya pengenalan huruf hijaiyah dan ilmu tajwid.

“Walaupun setelah pulang bertugas dari KUA saya harus kembali menyiapkan kegiatan mengaji di rumah, insyaallah saya tetap berusaha menjalankannya dengan ikhlas. Saya ingin anak-anak tetap semangat belajar Al-Qur’an. Musibah kebakaran ini memang membuat kegiatan kami harus berpindah tempat, tetapi jangan sampai semangat mereka untuk mengaji ikut padam,” ungkap Euis.

Perkuat Mental ASN, Kasi PAIS Kemenag Majalengka Hadiri Pengajian dan Belajar Bahasa Arab Se-Jabar

Bantuan Mengalir, Harapan Baru Tumbuh

Di balik musibah yang terjadi, terselip kabar menggembirakan. Kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an mulai terlihat melalui bantuan yang diberikan untuk mendukung kegiatan belajar anak-anak. Bantuan tersebut berupa Juz Amma, Al-Qur’an, dan buku Iqra yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran.

Dukungan ini menjadi penyemangat tersendiri bagi Euis dan para peserta didik. Kehadiran bahan bacaan Al-Qur’an yang kembali tersedia membantu anak-anak melanjutkan kegiatan belajar, sekaligus menumbuhkan harapan bahwa aktivitas mengaji akan terus berjalan meskipun sarana belajar mereka sempat terdampak kebakaran.

“Alhamdulillah, setelah musibah kebakaran, ada bantuan berupa Juz Amma, Al-Qur’an, dan Iqra untuk anak-anak. Kami sangat bersyukur atas perhatian dan kepedulian tersebut. Bantuan ini bukan hanya bermanfaat sebagai sarana belajar, tetapi juga menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melanjutkan kegiatan mengaji,” tutur Euis.

Ia berharap kepedulian tersebut terus terjaga sehingga anak-anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar membaca Al-Qur’an secara rutin. Menurutnya, dukungan sekecil apa pun akan sangat berarti apabila diberikan dengan ketulusan dan diarahkan untuk kepentingan pendidikan agama generasi muda.

Seksi Pendidikan Madrasah Evaluasi Penggunaan Dana BOS di Empat Madrasah

Mengajarkan Al-Qur’an, Menanamkan Akhlak Sejak Dini

Dalam kegiatan pembelajaran, anak-anak tidak hanya dibimbing mengenal huruf hijaiyah dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga diarahkan untuk memahami pentingnya disiplin, kesabaran, dan akhlak mulia. Pembelajaran dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta agar mereka dapat memperbaiki bacaan dengan baik.

Semangat Euis dalam mendampingi anak-anak sejalan dengan pesan Rasulullah saw. dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Kelahiran Putri Ketiga Nana Misnara, GTK MAN 3 Majalengka Pererat Ikatan Kekeluargaan

Hadis tersebut menegaskan keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. Upaya membimbing anak-anak membaca kitab suci merupakan bagian dari pendidikan keagamaan yang penting untuk membentuk generasi yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan.

Bagi Euis, keberhasilan kegiatan mengaji tidak semata-mata diukur dari kemampuan anak membaca dengan lancar, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan mereka untuk meluangkan waktu bersama Al-Qur’an. Konsistensi belajar, meskipun dalam keadaan terbatas, diharapkan dapat menanamkan kecintaan terhadap ilmu agama sejak dini.

Kisah Euis menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan fasilitas yang sempurna. Dengan ketulusan, kepedulian, dan dukungan masyarakat, pembelajaran tetap dapat berlangsung di tengah keterbatasan.

Melalui semangat yang terus dijaga selepas menjalankan tugas kedinasan, Euis menunjukkan bahwa pelayanan keagamaan juga hadir dalam langkah-langkah sederhana: membuka pintu rumah untuk anak-anak, membimbing mereka mengeja ayat demi ayat, dan menjaga agar cahaya Al-Qur’an tetap menyala meski musala tempat mereka belajar pernah dilanda kebakaran.

Kontributor: Alif Sinta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *