Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas XI.2 MAN 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Matematika mengenai penerapan pemahaman konsep lingkaran dalam kehidupan sehari-hari pada Kamis (1/10/2026). Pembelajaran yang dipandu oleh guru Matematika, Awal Rifqi Al Amri, S.Pd., tersebut diarahkan agar murid tidak hanya memahami konsep secara teoretis, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan berbagai objek dan peristiwa nyata.
Dalam kegiatan belajar mengajar tersebut, murid diajak mengidentifikasi lingkaran sebagai salah satu bentuk geometri yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada roda kendaraan, jam dinding, piring, hingga tutup wadah.
Selain itu, murid memperdalam pemahaman mengenai unsur-unsur lingkaran—mulai dari titik pusat, jari-jari, diameter, busur, tali busur, juring, hingga tembereng. Murid juga mengulas kembali hubungan antara jari-jari dan diameter serta formulasi untuk menghitung keliling dan luas lingkaran.
Pemahaman konsep dasar tersebut kemudian dikaitkan langsung dengan fungsi praktisnya. Sebagai contoh, konsep keliling diterapkan untuk memperkirakan jarak tempuh roda dalam satu putaran, sementara konsep luas digunakan untuk menghitung luas permukaan benda berbentuk lingkaran.
Melalui pendekatan pembelajaran kontekstual ini, murid diarahkan untuk menyadari bahwa Matematika tidak hanya berfokus pada angka dan rumus, melainkan instrumen untuk memecahkan berbagai persoalan nyata.
Awal Rifqi Al Amri menjelaskan bahwa pengintegrasian realitas kehidupan ke dalam materi materi pembelajaran merupakan aspek krusial dalam studi Matematika.
“Murid perlu memahami bahwa konsep lingkaran tidak hanya ada di dalam buku atau soal. Banyak benda di sekitar kita yang dapat menjadi contoh penerapan konsep tersebut. Dengan melihat dan menganalisisnya, murid dapat memahami manfaat Matematika secara lebih nyata,” ungkap Awal.
Ia menambahkan, model pembelajaran kontekstual ini dirancang untuk membina pola pikir matematis dan daya analisis murid secara berkelanjutan.
“Harapannya, murid mampu menghubungkan rumus dengan situasi nyata. Jadi, mereka tidak hanya menghafal rumus, tetapi memahami kapan dan bagaimana konsep tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Melalui pembelajaran terintegrasi ini, kelas XI.2 MAN 2 Majalengka tidak hanya menjadi ruang penguatan materi akademis, tetapi juga wahana pembentukan nalar kritis dan kemampuan aplikatif murid, sehingga Matematika hadir sebagai ilmu yang dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Kontributor: Reni Tania Nurmala


Komentar