Jatiwangi (KEMENAG) — Saling mendoakan menjadi cara sederhana untuk mempererat hubungan guru dan siswa, menumbuhkan kepedulian, serta menciptakan suasana belajar yang lebih hangat. Nilai tersebut tercermin dalam pelaksanaan doa pada upacara bendera di MAN 3 Majalengka, Senin (19/10/2026), sebagai pengingat bahwa pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga menumbuhkan ketulusan dan kasih sayang.
Upacara yang berlangsung di lapangan utama madrasah diikuti oleh guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Doa bersama menjadi momen untuk memohon kebaikan dan keberkahan bagi seluruh warga madrasah sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.
Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) MAN 3 Majalengka, Nana Misnara, S.Pd.I., menilai tradisi saling mendoakan memiliki makna penting dalam membangun hubungan harmonis di lingkungan pendidikan.
“Saling mendoakan adalah akar religius yang sangat kuat. Ketika guru mendoakan kebaikan serta kesuksesan para siswanya, dan siswa mendoakan keberkahan serta kesehatan bagi para gurunya, maka akan tercipta rasa saling menghormati dan kasih sayang di lingkungan madrasah. Hubungan emosional dan spiritual inilah yang menjadi kunci keberkahan dalam proses belajar mengajar,” ujar Nana Misnara.
Kebiasaan saling mendoakan diharapkan tercermin dalam tindakan nyata, seperti membantu teman yang mengalami kesulitan, memberikan semangat kepada sesama, serta menghormati guru. Sebaliknya, doa guru bagi peserta didik menjadi wujud harapan agar mereka tumbuh menjadi pribadi berilmu, berakhlak mulia, dan mampu meraih cita-cita.
Melalui pembiasaan tersebut, upacara bendera tidak hanya menjadi sarana menanamkan nasionalisme dan kedisiplinan, tetapi juga menguatkan karakter religius. Ketika doa disertai kepedulian dan perilaku saling menghargai, madrasah dapat menjadi lingkungan pendidikan yang lebih harmonis, nyaman, dan mendukung pembentukan akhlak mulia.
Kontributor: Firman Saefatullah


Komentar