Berita Daerah

Peringati Hari Santri, MTsN 12 Majalengka Tanamkan Karakter Zikir dan Fikir

Rajagaluh (KEMENAG) – Semangat resolusi jihad menggemar di lapangan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 12 Majalengka. Ratusan siswa dan guru kompak melaksanakan Upacara Peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum refleksi diri sekaligus ajang pembinaan karakter generasi penerus agar tak hanya cerdas secara akademik, namun juga tangguh dalam menjunjung nilai-nilai syariat dan nasionalisme.

Bertindak selaku Pembina Upacara, Kepala Madrasah Dr. Amin Ridwan, S.Ag., M.Pd., menyampaikan amanat yang membakar semangat seluruh peserta didik. Ia membedah makna mendalam di balik istilah ‘santri’. Kata santri, jelasnya, bisa ditafsirkan melalui akar bahasa Sanskerta, yakni dari suku kata sat (keteguhan, kejujuran), sananta (keabadian, keberlanjutan), hingga santi (kedamaian).

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa karakter seorang santri dapat dipahami dari istilah “San” dan “Tri”, di mana “Tri” bermakna tiga potensi besar manusia. “Santri itu adalah seseorang yang mempunyai keteguhan,” tegas Amin. Ia menjabarkan tiga potensi atau quwwatul insan yang harus dimiliki seorang santri. Pertama, potensi akal (fikrah) yang bertujuan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan melalui kurikulum universal. Kedua, potensi kalbu (hati) yang kuat, yang menghasilkan amalan-amalan rohani. Ketiga, potensi fisik (jasad), di mana santri tidak boleh bermalas-malasan dan harus terampil melakukan kebaikan, dari hal yang remeh hingga yang rumit. 

Dalam amanatnya, Amin juga menyoroti pentingnya sinkronisasi antara sistem pendidikan madrasah dan pondok pesantren. Ia menekankan bahwa tidak boleh ada disparitas atau perbedaan antara apa yang diajarkan di pesantren dan di sekolah. Keduanya harus berjalan beriringan dengan semangat sinergitas dan integritas. “Ketika di pondok pesantren diajarkan tentang kitab tauhid, maka di sekolah juga harus sebenarnya diajarkan kitab tauhid. Ketika di pesantren diajarkan tentang fikih, maka otomatis di madrasah pun harus ada kitab fikih yang diajarkan,” paparnya memberikan contoh konkret. Oleh karena itu, santri modern harus fokus pada pendalaman ilmu agama atau tafaqquh fiddin. 

Menutup sesi amanatnya, Amin memberikan wejangan khusus kepada seluruh siswa-siswi. Ia mengingatkan akan jasa besar para kiai dan ulama terdahulu, seperti K.H. Hasyim Asy’ari yang menggulirkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang menjadi tonggak Hari Santri. “Cintai negeri ini, karena kalian ke depan akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia,” pesannya.

Peringati Hari Santri 2026, MTsN 9 Majalengka Gelar Upacara Khidmat dan Gaungkan Peran Santri untuk Indonesia Emas

Ia pun memberikan tiga kunci karakter yang harus dipegang teguh oleh santri generasi modern, sebagaimana dirangkum dari pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama, K.H. A. Wahab Hasbullah. “Santri itu orang yang harus mempunyai tiga aspek: orang yang mempunyai zikirnya kuat, berpikirnya cepat, bertindaknya tepat,” tandas Amin dengan lantang. Zikir yang kuat dimaknai sebagai niat yang semata-mata karena Allah, berpikir cepat untuk merespons zaman tanpa menggerus akidah, dan bertindak tepat yang diiringi dengan akhlak mulia.

Peringatan Hari Santri di MTsN 12 Majalengka membuktikan komitmen madrasah dalam mencetak insan yang paripurna. Di era digital yang penuh tantangan, identitas santri tak lagi diukur sebatas dari sarung dan peci yang dikenakan. Santri sejati adalah mereka yang tangguh memadukan kecerdasan global dengan kedalaman spiritual. Melalui pembiasaan karakter yang kuat sejak dini, madrasah optimis tunas-tunas muda ini kelak akan tumbuh menjadi pemimpin bangsa yang berakhlak mulia, adaptif, dan siap menjaga kedaulatan NKRI. Selamat Hari Santri, bersama santri damailah negeri!

Kontributor: Mohammad Rega Permana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *