Sindang (KEMENAG) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka, Dr. Hj. Euis Damayanti, M.P.Kim., membuka Perkemahan Pelantikan Penggalang (Perkajumsa) Gugus Depan 12.045–12.046 Pangkalan MTsN 14 Majalengka di Bumi Perkemahan Indra Binangkit, Kecamatan Sindang, Kamis (22/10/2026). Di hadapan ratusan peserta, Euis menegaskan pentingnya membangun karakter pelajar yang berakhlak, berani menyuarakan kebenaran, serta menjadikan madrasah sebagai lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan.
Pembukaan perkemahan ditandai dengan penancapan kapak dan penyematan tanda peserta secara simbolis. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan karakter peserta didik melalui pendidikan kepramukaan, sekaligus momentum untuk memperkuat nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam amanatnya, Euis menaruh perhatian khusus pada persoalan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan. Menurutnya, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga harus tercermin dalam cara peserta didik memperlakukan teman, menghargai perbedaan, dan menjaga perasaan orang lain.
“Saya tidak mau di madrasah ada pembulian. Hal yang paling sederhana dari bullying adalah pengucilan. Jika ada tindakan yang tidak menyenangkan, kalian harus berani speak up atau bicara,” tegas Euis di hadapan para peserta.

Pesan tersebut menekankan bahwa perundungan bukan budaya di madrasah. Perundungan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan fisik. Sikap mengucilkan, merendahkan, atau memperlakukan teman secara tidak menyenangkan juga dapat melukai dan memengaruhi kondisi psikologis peserta didik. Karena itu, siswa perlu memahami batas perilaku yang dapat menyakiti orang lain serta berani menyampaikan persoalan kepada guru atau pihak yang dapat membantu.
Euis juga mengingatkan pentingnya peran seluruh warga madrasah dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman. Peserta didik perlu membangun kebiasaan saling menghormati dan membantu, sedangkan lingkungan pendidikan harus memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan masalah tanpa rasa takut. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan karakter yang diharapkan tumbuh melalui kegiatan kepramukaan.
Selain persoalan perundungan, Kepala Kemenag Majalengka itu menyoroti tantangan pelajar dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Euis mengimbau peserta agar menggunakan gawai secara bijak dan produktif, terutama untuk memperluas pengetahuan serta mengembangkan keterampilan yang bermanfaat.
“Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana belajar, bukan sekadar untuk mengikuti arus media sosial.” Tegasnya
Peserta didik perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks. Sikap kritis, kecakapan digital, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi menjadi bekal penting bagi generasi muda.
Euis turut menekankan pentingnya keseimbangan antara pemahaman agama, penguasaan ilmu pengetahuan dan sains, serta keterampilan kewirausahaan. Dengan bekal tersebut, siswa madrasah diharapkan tumbuh menjadi generasi yang kuat dalam nilai keagamaan, terbuka terhadap perkembangan zaman, dan mampu bersaing di tingkat global.
Pesan itu mempertegas bahwa identitas santri tidak berhenti pada pengetahuan agama atau pelaksanaan ibadah. Nilai kesantunan, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan kemauan untuk terus belajar perlu hadir dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat.
Ketua Panitia Perkajumsa, Titin Supriatin, M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti 340 peserta, terdiri atas 160 peserta putra dan 181 peserta putri. Perkemahan mengusung tema “Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan” dan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, hingga Sabtu (24/10/2026).
Titin menjelaskan, Perkajumsa dirancang untuk memperluas pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan kepramukaan sekaligus membentuk pribadi yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian sosial.
“Kegiatan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan kepramukaan, serta membentuk karakter yang disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” ujar Titin.

Selama perkemahan, peserta mengikuti beragam agenda pembinaan dan pengembangan diri. Kegiatan tersebut meliputi pembinaan kerohanian, penjelajahan alam, pentas seni, upacara api unggun, hingga bakti sosial bagi masyarakat sekitar. Rangkaian kegiatan itu memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bekerja sama, melatih kemandirian, mengembangkan kreativitas, serta memahami arti kepedulian terhadap lingkungan.
Kontibutor: D.Win


Komentar