Rajagaluh (KEMENAG) – Pelaksanaan upacara bendera di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 12 Majalengka pada Senin (19/10/2026) berlangsung khidmat dan sarat akan nilai edukasi. Bertempat di lapangan utama madrasah, upacara kali ini dipandu dengan sigap oleh para petugas dari kelas 9D dan diikuti oleh seluruh siswa-siswi beserta jajaran dewan guru. Tampil memberikan amanat yang menginspirasi, Guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Aneng Siti Nurul Fitriah, S.Pd., selaku pembina upacara, secara kreatif membedah materi pendidikan karakter melalui kacamata ilmu Fisika.
Mengawali amanatnya, Aneng menyadarkan para peserta didik bahwa ilmu yang dipelajari di dalam kelas, khususnya Fisika, sejatinya sangat dekat dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ia kemudian menganalogikan fenomena karakter siswa dengan Hukum I Newton, yang sering dikenal sebagai hukum kelembaman atau kemalasan.
Menurutnya, sebuah benda yang diam akan tetap diam jika tidak ada gaya yang memengaruhinya. Hal ini berbanding lurus dengan sikap mental seorang pelajar.
“Siswa yang malas, akan terus malas jika tidak ada gaya, tidak ada dorongan, tidak ada kemauan, tidak ada tekad yang kuat untuk melawan kemalasan itu,” tegas Aneng di hadapan ratusan peserta upacara.
Aneng mengajak seluruh siswa untuk menciptakan “gaya dorong” dari dalam diri mereka sendiri agar terbebas dari jerat kemalasan.
Memasuki poin kedua, pembina upacara mengaitkan Hukum II Newton (percepatan berbanding lurus dengan gaya) dengan pencapaian prestasi akademik. Ia menekankan bahwa tidak ada keberhasilan yang datang secara instan tanpa adanya usaha yang sepadan.
Khususnya bagi siswa kelas 9 yang akan menghadapi kelulusan, Aneng menitipkan pesan motivasi yang kuat.
“Ketika kalian kelas 9 ingin masuk, ingin diterima di sekolah favorit, maka kalian harus ada usaha yang sungguh-sungguh,” paparnya.
Aneng kembali mengingatkan sebuah prinsip penting bahwa “Karena hasil yang luar biasa itu, diperoleh tidak dari usaha yang biasa-biasa saja,”
Sebagai penutup materinya, Aneng menguraikan Hukum III Newton yang membahas tentang Aksi dan Reaksi. Ia menganalogikan bahwa saat seseorang memukul tembok dengan keras, maka rasa sakit yang diterima tangan akan semakin besar. Konsep fisika ini, menurutnya, adalah cerminan dari hukum sebab-akibat dalam etika pergaulan sosial. “Setiap tindakan yang kita lakukan, itu akan ada konsekuensinya,” ingat Aneng.
Aneng menjabarkan bahwa jika siswa menghormati guru dan orang tua, maka aksi tersebut akan membuahkan reaksi berupa keberkahan ilmu dan doa. Sebaliknya, jika siswa melakukan aksi perundungan (bullying) atau menghina teman, maka akan ada konsekuensi buruk yang menanti. Lebih jauh, ia menyoroti etika bermedia sosial di era modern.
“Apalagi di dunia digital sekarang ya, apa yang kalian unggah, apa yang kalian ketik, apa yang kalian share di medsos itu akan ada jejak digitalnya, tidak akan terhapus,” pesannya, mengingatkan para siswa untuk lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi.
Pendekatan unik yang dihadirkan oleh Aneng Siti Nurul Fitriah dalam amanat upacara ini membuktikan bahwa edukasi karakter dapat disampaikan melalui berbagai sudut pandang keilmuan. MTsN 12 Majalengka sukses menunjukkan wajah pendidikan yang tidak kaku, di mana rumus sains di atas papan tulis mampu menjelma menjadi pedoman moral yang membumi. Lewat analogi Hukum Newton, siswa tidak sekadar diajak untuk pintar menghitung gaya dan percepatan, melainkan dididik untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah, pekerja keras, dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya.
Kontributor: Mohammad Rega Permana


Komentar