Sindangwangi (KEMENAG) — Budaya lokal menghadapi tantangan baru di tengah derasnya arus digital yang membuat generasi muda semakin mudah berinteraksi dengan berbagai budaya dari seluruh dunia. Di tengah kondisi tersebut, MAN 3 Majalengka berupaya menghadirkan budaya Sunda dalam ruang pendidikan agar kemajuan teknologi tidak membuat peserta didik kehilangan akar budayanya.
Upaya tersebut salah satunya terlihat dalam pembukaan Perkemahan Calon Penegak dan Penggalang (Pecapa) 2026 di Bumi Perkemahan Leles, Kecamatan Sindangwangi, Senin (5/10/2026). Prosesi pembukaan dikemas dengan nuansa budaya Sunda melalui kehadiran lengser dan unsur tradisi lokal yang melibatkan peserta didik.
Kehadiran budaya Sunda dalam kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pelengkap acara. Bagi MAN 3 Majalengka, tradisi lokal dapat menjadi bagian dari proses pendidikan sekaligus ruang bagi siswa untuk mengenali identitas budaya di tengah perubahan pola kehidupan akibat perkembangan teknologi digital.
Guru Multimedia MAN 3 Majalengka, Firman Saefatullah, M.Pd., mengatakan kemajuan teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi budaya lokal. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan dan mendokumentasikan budaya kepada generasi yang hidup dalam ekosistem digital.
“Era digital jangan sampai membuat generasi muda hanya menjadi penonton budaya dari luar, sementara budaya sendiri semakin jauh dari kehidupan mereka. Teknologi justru harus kita gunakan untuk mengenalkan, mendokumentasikan, dan mengembangkan budaya lokal agar semakin dekat dengan generasi digital,” ujar Firman.
Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki pola interaksi yang berbeda. Informasi mengenai budaya, tren, dan gaya hidup dari berbagai belahan dunia dapat diakses hanya melalui perangkat digital. Karena itu, pengenalan budaya lokal juga perlu masuk ke ruang yang akrab dengan kehidupan generasi muda.
“Kalau budaya Sunda hanya dikenalkan dalam bentuk teori, sementara keseharian anak-anak berada di ruang digital, tentu ada jarak. Budaya perlu dihadirkan dalam pengalaman nyata sekaligus dikemas melalui konten digital yang menarik, kreatif, dan relevan dengan cara berkomunikasi generasi sekarang,” katanya.
Keterlibatan siswa dalam prosesi budaya pada pembukaan Pecapa menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat ditempatkan dalam pengalaman pendidikan. Salah seorang siswa kelas XI, Dafa, dipercaya memerankan tokoh lengser dalam prosesi tersebut.
Bagi Dafa, pengalaman tersebut memberikan kesempatan untuk mengenal budaya Sunda secara langsung. Ia juga melihat bahwa generasi muda dapat ikut menjaga budaya melalui keterlibatan dalam berbagai kegiatan.
“Menurut saya, budaya Sunda harus tetap dikenalkan kepada anak muda. Sekarang zamannya sudah digital, tetapi bukan berarti kita harus melupakan budaya sendiri,” ujar Dafa.
Firman menambahkan, pelestarian budaya di era digital tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk tradisinya. Generasi muda juga perlu diberikan ruang untuk menjadi pelaku sekaligus kreator yang mampu menceritakan kembali budaya melalui media yang mereka kuasai.
“Anak-anak sekarang adalah generasi yang sangat dekat dengan kamera, video, media sosial, dan berbagai platform digital. Kemampuan itu bisa diarahkan untuk membuat dokumentasi budaya, video pendek, fotografi, desain, hingga cerita digital tentang tradisi daerah. Dengan begitu, budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga diproduksi kembali dalam bahasa generasi mereka,” tuturnya.
Pembina Ekstrakurikuler Kesenian MAN 3 Majalengka, Ida Nurparida, S.Pd., mengatakan pengenalan budaya melalui kegiatan madrasah merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian siswa terhadap seni dan tradisi daerah.
“Kami ingin peserta didik mengenal budaya Sunda melalui pengalaman langsung. Mereka boleh menjadi generasi yang modern dan melek teknologi, tetapi tetap memiliki kecintaan terhadap budaya sendiri,” ujar Ida.
Pecapa 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ruang pembelajaran kepramukaan, tetapi juga menjadi pertemuan antara tradisi dan generasi digital. Budaya Sunda dihadirkan bukan sebagai sesuatu yang berhenti pada masa lalu, melainkan sebagai identitas yang dapat terus hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman.
Bagi MAN 3 Majalengka, tantangan budaya di era digital bukan terletak pada seberapa cepat generasi muda meninggalkan tradisi, melainkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk membuat budaya semakin dikenal, dipahami, dan dibanggakan oleh generasi berikutnya.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar