Jatiwangi (KEMENAG)— Apa makna Upacara Hari Kesaktian Pancasila bagi generasi yang setiap hari akrab dengan gawai, media sosial, dan derasnya arus informasi? Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari refleksi warga Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka saat memperingati Hari Kesaktian Pancasila di halaman madrasah, Kamis (1/10/2026).
Upacara yang diikuti pimpinan, guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik MAN 3 Majalengka tersebut tidak hanya menjadi kegiatan rutin tahunan. Momentum itu menjadi kesempatan untuk mengingatkan generasi muda bahwa menjaga persatuan tetap menjadi kebutuhan penting, meskipun bentuk tantangan yang dihadapi terus berubah.
Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka, Firman Saefatullah, M.Pd., mengatakan pelaksanaan Upacara Hari Kesaktian Pancasila perlu dimaknai lebih jauh agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Upacara ini bukan sekadar berdiri bersama, mengikuti pembacaan Pancasila, lalu selesai. Ada pesan yang perlu kita bawa pulang, terutama bagi generasi muda. Pancasila mengajarkan kita bagaimana hidup bersama dalam perbedaan dan menjaga persatuan,” ujar Firman.
Menurutnya, peringatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau G30S yang menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut diikuti penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat serta menimbulkan situasi politik dan keamanan yang serius.
Namun, bagi generasi kekinian, kata Firman, pemaknaan terhadap peringatan tersebut tidak cukup hanya dengan menghafal rangkaian peristiwa masa lalu. Nilai yang terkandung di dalamnya perlu diterjemahkan sesuai dengan persoalan yang dihadapi generasi saat ini.
“Anak-anak kita hari ini mungkin tidak menghadapi persoalan seperti generasi pada 1965. Mereka menghadapi dunia yang berbeda. Tantangannya bisa datang melalui media sosial, informasi yang belum tentu benar, perundungan, ujaran kebencian, fanatisme kelompok, dan mudahnya seseorang terprovokasi oleh sebuah informasi,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Firman, membuat nilai persatuan justru semakin penting untuk diperkuat. Perbedaan pilihan, pendapat, latar belakang, maupun kelompok tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh atau bermusuhan.
Di lingkungan MAN 3 Majalengka, nilai tersebut dapat diterapkan melalui kehidupan sehari-hari peserta didik. Mulai dari menghargai pendapat teman, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, bekerja sama dalam kegiatan madrasah, hingga menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
“Kalau dulu anak-anak belajar menjaga persatuan melalui interaksi langsung, sekarang mereka juga harus belajar menjaganya di ruang digital. Jangan sampai berbeda pendapat di media sosial membuat hubungan pertemanan rusak. Jangan sampai satu unggahan yang belum tentu benar membuat kita saling membenci,” ujar Firman.
Ia menilai generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis sebelum menerima dan menyebarkan informasi. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari pengamalan nilai kebangsaan di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Bagi MAN 3 Majalengka, momentum Hari Kesaktian Pancasila menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan nilai kebangsaan dengan realitas kehidupan peserta didik. Upacara tidak hanya mengajak siswa mengenang momentum penting bangsa, tetapi juga menghubungkannya dengan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Firman menambahkan bahwa Pancasila akan memiliki makna ketika hadir dalam perilaku, bukan hanya dalam teks yang dibacakan saat upacara.
“Generasi kekinian tidak cukup hanya menjadi generasi yang melek teknologi. Mereka juga harus menjadi generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan bijak, menghargai perbedaan, dan tidak mudah dipecah oleh informasi. Di situlah nilai Pancasila menemukan relevansinya,” katanya.
Upacara Hari Kesaktian Pancasila di MAN 3 Majalengka akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Dari halaman madrasah, warga madrasah diajak melihat bahwa menjaga persatuan pada masa kini dapat dimulai dari hal-hal sederhana: cara berbicara, cara memperlakukan orang lain, cara menggunakan media sosial, serta keberanian untuk tidak mudah terprovokasi.
Bagi generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus digital, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Sebab, persatuan tidak hanya perlu dijaga di dunia nyata, tetapi juga di ruang digital tempat generasi muda kini banyak menghabiskan waktunya.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar