Berita Daerah KUA

Sampaikan Tanda Orang Bahagia Menurut Kitab Nashaihul ‘Ibad, Penyuluh Agama Islam KUA Banjaran Tetap Melayani Jamaah di Hari Libur

Banjaran (KEMENAG) — Meski berada pada hari libur, Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banjaran, Ani Nuraeni, S.H., tetap berkomitmen memberikan layanan keagamaan kepada masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kajian rutin di Majelis Taklim An-Nahdliyah, Desa Genteng, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, pada Ahad (4/10/2026).

Pada kesempatan tersebut, Ani Nuraeni membedah Kitab Nashaihul ‘Ibad Bab Keempat Maqalah ke-15 yang mengulas mengenai empat tanda orang yang bahagia berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW:

وَعَلَامَةُ السَّعَادَةِ أَرْبَعَةٌ: ذِكْرُ الذُّنُوبِ الْمَاضِيَةِ، وَنِسْيَانُ الْحَسَنَاتِ الْمَاضِيَةِ، وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ فَوْقَهُ فِي الدِّينِ، وَنَظَرُهُ إِلَى مَنْ دُونَهُ فِي الدُّنْيَا

“Tanda-tanda kebahagiaan ada empat, yaitu mengingat dosa-dosa yang telah lalu, melupakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan, memandang orang yang lebih tinggi dalam urusan agama, dan memandang orang yang berada di bawahnya dalam urusan dunia.”

Dalam pemaparannya, Ani menjelaskan bahwa mengingat dosa masa lalu bukan berarti seseorang harus larut dalam penyesalan yang berkepanjangan. Sebaliknya, hal itu harus dijadikan sarana muhasabah agar senantiasa memperbaiki diri, memperbanyak istigfar, serta tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Supervisi Tiga KUA, Kasi Bimas Islam Majalengka Tekankan Profesionalisme dan Kepatuhan Regulasi

“Orang yang bahagia adalah orang yang masih mengingat dosa-dosanya sehingga terdorong untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jangan sampai kita mudah melupakan dosa, tetapi justru selalu mengingat dan membanggakan kebaikan yang pernah dilakukan,” ujar Ani.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan amal kebaikan sebagai ajang untuk merasa lebih baik dari orang lain. Kebaikan yang telah diperbuat hendaknya disyukuri dan terus dilanjutkan. Sementara itu, dalam urusan agama, seseorang dianjurkan untuk meneladani mereka yang lebih baik sebagai motivasi meningkatkan kualitas ibadah.

Adapun dalam urusan dunia, jamaah diajak untuk melihat orang-orang yang keadaannya berada di bawah sebagai wujud syukur atas nikmat Allah SWT, bukan untuk merendahkan.

“Dalam urusan agama, lihatlah mereka yang lebih baik agar kita termotivasi untuk naik. Tetapi dalam urusan dunia, lihatlah mereka yang keadaannya berada di bawah kita agar tumbuh rasa syukur,” tuturnya.

Tetap Melayani di Hari Libur

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Kehadiran Penyuluh Agama Islam di tengah majelis taklim pada hari Ahad menjadi bagian dari semangat pelayanan publik. Hari libur tidak menjadi penghalang bagi pengabdian ketika masyarakat membutuhkan bimbingan dan pencerahan keagamaan.

Bagi Penyuluh Agama Islam, menyampaikan ilmu bukan sekadar menjalankan tugas administratif, melainkan bagian dari nasyrul ‘ilmi atau menebarkan ilmu dan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Pengabdian ini menjadi ikhtiar untuk memastikan bahwa pesan keagamaan terus hadir, baik melalui pelayanan formal di kantor maupun majelis keagamaan di tengah warga.

“Nasyrul ‘ilmi bukan tentang kapan kita mengajar, tetapi tentang bagaimana ilmu terus mengalir dan memberi manfaat. Selama masyarakat membutuhkan bimbingan, di situlah pengabdian menemukan maknanya,” pungkas Ani.

Melalui kajian rutin di Majelis Taklim An-Nahdliyah ini, Penyuluh Agama Islam KUA Banjaran terus berupaya menghadirkan layanan keagamaan yang dekat, mencerahkan, dan berdampak, sekaligus membina masyarakat agar semakin memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Sofwan Farohi

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *