Berita Daerah MAN

Murid X.7 MAN 2 Majalengka Telusuri Sejarah Penulisan Al-Qur’an dan Fase Perkembangannya

Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas X.7 MAN 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Al-Qur’an Hadis pada Jumat (25/9/2026) dengan materi menganalisis pengertian penulisan Al-Qur’an dan fase-fase perkembangannya. Pembelajaran yang dipandu oleh Ade Holipah, S.Pd.I., tersebut mengajak murid memahami proses penulisan Al-Qur’an sebagai bagian dari sejarah pemeliharaan dan penyampaian wahyu.

Penulisan Al-Qur’an dapat dipahami sebagai proses pencatatan ayat-ayat Al-Qur’an sejak masa turunnya wahyu hingga tahap pembukuan dalam bentuk mushaf. Pada masa Rasulullah SAW, ayat-ayat Al-Qur’an dihafalkan oleh para sahabat sekaligus ditulis pada berbagai media yang tersedia. Beberapa sahabat yang bertugas sebagai penulis wahyu mencatat ayat berdasarkan arahan Rasulullah SAW.

Dalam pembelajaran, murid mempelajari beberapa fase penting dalam sejarah penulisan Al-Qur’an. Fase tersebut antara lain masa Rasulullah SAW, ketika wahyu dicatat dan dihafalkan; masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, ketika dilakukan penghimpunan Al-Qur’an dalam satu kumpulan tulisan; serta masa Utsman bin Affan, ketika dilakukan standardisasi mushaf untuk menjaga keseragaman bacaan dan penulisan di tengah meluasnya wilayah Islam.

Murid juga memahami bahwa proses tersebut memiliki keterkaitan dengan upaya menjaga Al-Qur’an agar tetap terpelihara dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Penulisan dan pengumpulan dilakukan melalui proses yang melibatkan para sahabat yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam membaca serta menulis Al-Qur’an.

Ade menjelaskan bahwa materi tersebut penting dipahami murid agar mereka tidak hanya mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci, tetapi juga mengetahui sejarah pemeliharaannya.

Supervisi Tiga KUA, Kasi Bimas Islam Majalengka Tekankan Profesionalisme dan Kepatuhan Regulasi

“Mempelajari fase-fase penulisan Al-Qur’an membuat murid memahami bahwa proses pemeliharaan Al-Qur’an memiliki sejarah yang panjang. Dengan memahami sejarahnya, kita dapat semakin menghargai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan,” ungkap Ade.

Pembelajaran juga diarahkan untuk menumbuhkan sikap cinta terhadap Al-Qur’an melalui pemahaman sejarahnya. Murid tidak hanya diharapkan mampu mengingat nama tokoh dan peristiwa, tetapi juga dapat memahami hubungan antara penulisan, penghimpunan, dan standardisasi mushaf dalam sejarah Islam.

“Harapannya, murid semakin dekat dengan Al-Qur’an, bukan hanya dalam kegiatan membaca dan menghafal, tetapi juga memahami sejarahnya serta mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” tambah Ade.

Melalui pembelajaran Al-Qur’an Hadis ini, murid X.7 diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai sejarah penulisan Al-Qur’an sekaligus tumbuh kesadaran untuk menjaga, membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor: Reni Tania Nurmala

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *