Berita Daerah MAN

Murid X.8 MAN 2 Majalengka Perdalam Ketidakpastian Pengukuran dan Angka Penting dalam Pembelajaran Fisika

Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas X.8 MAN 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Fisika pada Jumat (25/9/2026) dengan materi ketidakpastian pengukuran dan angka penting. Kegiatan pembelajaran dipandu oleh guru Fisika, Nia Kurnia, S.Pd., dengan menekankan pemahaman konsep serta ketelitian dalam melakukan pengukuran.

Dalam pembelajaran Fisika, pengukuran merupakan kegiatan penting untuk memperoleh nilai suatu besaran secara kuantitatif. Namun, hasil pengukuran tidak selalu dapat dianggap benar-benar tepat karena setiap alat ukur memiliki keterbatasan dan proses pengukuran juga dapat dipengaruhi oleh cara membaca skala maupun ketelitian pengguna.

Murid diperkenalkan dengan konsep ketidakpastian pengukuran, yaitu adanya rentang atau batas keraguan terhadap hasil pengukuran. Ketidakpastian dapat berkaitan dengan ketelitian alat ukur, skala terkecil alat, maupun kondisi ketika pengukuran dilakukan. Karena itu, penyajian hasil pengukuran perlu memperhatikan tingkat ketelitian yang dimiliki alat.

Selain itu, murid mempelajari angka penting, yaitu angka-angka yang menunjukkan tingkat ketelitian suatu hasil pengukuran. Pemahaman mengenai angka penting diperlukan agar hasil pengukuran dan perhitungan Fisika tidak dituliskan secara berlebihan atau justru mengurangi informasi penting dari data yang diperoleh.

Nia menjelaskan bahwa materi tersebut menjadi dasar penting bagi murid untuk memahami berbagai kegiatan pengukuran dalam pembelajaran Fisika.

Supervisi Tiga KUA, Kasi Bimas Islam Majalengka Tekankan Profesionalisme dan Kepatuhan Regulasi

“Pengukuran dalam Fisika tidak hanya tentang mendapatkan sebuah angka, tetapi juga memahami seberapa teliti hasil yang diperoleh. Karena itu, murid perlu memahami ketidakpastian pengukuran dan aturan angka penting agar dapat menyajikan data secara tepat,” ujar Nia.

Melalui pembelajaran ini, murid juga diarahkan untuk membangun sikap teliti, cermat, dan kritis ketika berhadapan dengan data hasil pengukuran. Sikap tersebut tidak hanya diperlukan dalam pembelajaran Fisika, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ilmiah yang membutuhkan ketepatan dalam mengolah dan menyampaikan data.

“Harapannya, murid tidak sekadar mampu menghitung, tetapi juga dapat membaca hasil pengukuran dengan benar dan memahami makna angka yang diperoleh,” tambah Nia.

Pembelajaran ketidakpastian pengukuran dan angka penting diharapkan menjadi bekal bagi murid X.8 untuk memahami materi-materi Fisika berikutnya yang berkaitan dengan pengukuran, perhitungan, dan analisis data secara lebih akurat.

Kontributor: Reni Tania Nurmala

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *