Malausma (KEMENAG) — Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Malausma, H. Jalaludin, S.Ag., M.Pd.I., mengikuti kegiatan Islamic Literacy Space secara daring melalui Zoom pada Jumat (25/9/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema Bedah Buku “Relevansi Piagam Madinah dan Pancasila: Studi Pemikiran M. Quraish Shihab”. Kegiatan diselenggarakan oleh Subdit Kepustakaan Islam, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama.
Kegiatan literasi tersebut menjadi ruang untuk memperluas wawasan keislaman, khususnya dalam melihat hubungan antara nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Madinah dengan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Dalam pembahasan, Piagam Madinah menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat bagaimana Rasulullah saw. membangun kehidupan masyarakat Madinah yang terdiri atas berbagai kelompok. Prinsip kebersamaan, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, tanggung jawab sosial, dan kehidupan yang damai menjadi bagian penting dari pembahasan.

Bagi H. Jalaludin, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki banyak titik temu dengan prinsip-prinsip universal yang diajarkan Islam.
“Kalau kita melihat Pancasila secara lebih mendalam, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat dekat dengan ajaran Islam. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan merupakan nilai yang juga mendapat tempat penting dalam ajaran Islam,” ujar H. Jalaludin.
Ia menilai, pemahaman terhadap Pancasila tidak semestinya dipertentangkan dengan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan bersama dalam membangun kehidupan masyarakat Indonesia yang damai, adil, dan saling menghormati.
“Pancasila sangat Islami dalam nilai dan substansinya. Bukan berarti Pancasila menggantikan ajaran Islam, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan banyak prinsip dasar Islam, terutama tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan,” tambahnya.
Menurutnya, Piagam Madinah juga memberikan pelajaran penting bahwa kehidupan masyarakat yang beragam dapat dibangun melalui kesepakatan bersama, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, serta komitmen menjaga kedamaian.
Keikutsertaan penyuluh agama dalam kegiatan literasi keislaman seperti ini diharapkan dapat memperkaya perspektif dalam melaksanakan tugas penyuluhan di tengah masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bahan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang kontekstual, moderat, serta relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi keislaman di kalangan penyuluh agama agar nilai-nilai agama dapat disampaikan secara bijak dan mampu memperkuat kehidupan bermasyarakat dalam bingkai kebangsaan.
Kontributor: Alif Sinta


Komentar