Berita Daerah MAN

Doa Menteri Agama Sarat Pesan Kepemimpinan, Guru MAN 3 Majalengka Soroti Retorika Aristoteles

Jatiwangi (KEMENAG) — Doa Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 dinilai tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menyampaikan pesan tentang kepemimpinan, persatuan, dan pentingnya menerima kritik.

Saat di temui di Studio Journal Three hari Jumat (14/8/2026), Guru sekaligus Pembina Ekstrakurikuler Jurnalistik MAN 3 Majalengka, Firman Saefatullah, M.Pd., menilai doa tersebut menarik jika dilihat melalui teori retorika Aristoteles yang mengenal tiga unsur persuasi, yakni ethos, pathos, dan logos.

Menurut Firman, unsur ethos terlihat dari posisi Menteri Agama sebagai tokoh pemerintahan sekaligus tokoh agama. Hal itu membuat pesan yang disampaikan memiliki wibawa dan bobot moral.

“Doa tersebut tidak hanya berbicara tentang harapan, tetapi juga menunjukkan kerendahan hati dengan memohon ampun atas kekeliruan para pemimpin,” ujar Firman.

Sementara itu, unsur pathos tampak dari pesan yang menyentuh kondisi masyarakat, khususnya mereka yang lemah dan terzalimi. Penggunaan kata “kami” juga dinilai membuat jarak antara pemimpin dan masyarakat menjadi lebih dekat.

Tingkatkan Kepedulian Sosial Siswa, MTsN 5 Majalengka Gelar Ceramah Keagamaan dan Shalat Duha Bersama

“Pemimpin tidak menempatkan dirinya di luar persoalan, tetapi menjadi bagian dari bangsa yang sedang menghadapi berbagai tantangan,” katanya.

Firman juga melihat unsur logos dalam pesan tentang pentingnya menerima kritik. Menurutnya, kritik yang benar dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki kepemimpinan.

“Seorang pemimpin perlu mendengar kritik agar mengetahui kekurangan dan dapat melakukan perbaikan,” jelasnya.

Sebagai pembina jurnalistik, Firman menilai pembacaan terhadap doa tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi siswa. Menurutnya, komunikasi yang baik bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi juga bagaimana membangun kepercayaan, menyentuh perasaan, dan menyampaikan alasan yang jelas.

“Ethos, pathos, dan logos masih relevan dalam jurnalistik. Siswa perlu belajar bagaimana sebuah pesan dibangun agar kuat, jelas, dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Perkuat Karakter Unggul, MTsN 5 Majalengka Utus Siswa Terbaik di OMI 2026

Firman menilai doa Menteri Agama tersebut menjadi contoh bahwa retorika tidak selalu hadir dalam pidato atau debat. Retorika juga dapat ditemukan dalam doa, berita, tulisan, dan berbagai bentuk komunikasi lainnya.

Kontributor : Firman Saefatullah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *