Berita Daerah MAN

Tim Inspektorat Jenderal Kemenag RI Tinjau Pembelajaran Sosial Humaniora di MAN 2 Majalengka

Rajagaluh (KEMENAG) — Pelaksanaan Audit Kinerja oleh Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia di MAN 2 Majalengka turut mencakup peninjauan bidang mata pelajaran sosial humaniora, meliputi sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Pemeriksaan ini berfokus pada pelaksanaan pembelajaran, kelengkapan perangkat ajar, serta pembiasaan di kelas untuk meningkatkan pemahaman murid terhadap materi pelajaran. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian audit yang berlangsung pada Rabu (28/10/2026).

Peninjauan bidang sosial humaniora melibatkan tujuh guru MAN 2 Majalengka, yaitu Ana Nurhasanah, S.Sos., Usef Saefulloh, S.Hum., Firda Maulida Sudrajat, S.Pd., Yeni Yuaningsih, S.Pd., Cicih Wikarsih, S.Pd., Rina Sugiarti, S.Pd., dan Amaliya Ulfah, S.Pd. Pemeriksaan dilakukan oleh Ibnu Ulinuha selaku anggota Tim Auditor Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI melalui penelaahan dokumen pembelajaran, perangkat ajar, serta praktik pembelajaran yang mendukung pencapaian kompetensi murid.

Dalam peninjauan tersebut, sejumlah aspek menjadi perhatian, antara lain kesesuaian perangkat ajar dengan pelaksanaan pembelajaran, strategi guru dalam membantu murid memahami materi, serta pembiasaan positif di kelas yang dapat memperkuat proses belajar. Selain itu, tim auditor memberikan saran mengenai penyusunan formulir khusus untuk mendukung kegiatan literasi agar pelaksanaannya dapat terdokumentasi, dipantau, dan dievaluasi secara lebih terarah.

Ibnu Ulinuha menyampaikan bahwa perangkat pembelajaran dan praktik mengajar perlu saling mendukung agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Menurutnya, kegiatan literasi juga perlu dirancang secara sistematis sehingga dapat menjadi bagian dari pembiasaan belajar yang berkelanjutan.

“Dalam peninjauan pembelajaran sosial humaniora, kami melihat kesesuaian antara perencanaan, perangkat ajar, dan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Guru perlu menerapkan pembiasaan yang membantu murid memahami materi secara lebih mendalam, bukan sekadar menghafal informasi. Kami juga menyarankan adanya formulir khusus untuk kegiatan literasi agar pelaksanaannya dapat dicatat, dipantau, dan dievaluasi secara terstruktur. Dengan demikian, perkembangan kegiatan literasi dapat menjadi bahan refleksi dan perbaikan pembelajaran,” ungkap Ibnu.

Rakor PAI Kemenag Majalengka: Bahas Digitalisasi Data Guru, Hak PPG, dan Legalitas Pokjawas

Ibnu berharap masukan tersebut dapat membantu guru mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif, kontekstual, dan mendorong keterlibatan aktif murid. Penguatan literasi juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan murid dalam membaca, memahami informasi, menganalisis persoalan, serta menghubungkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Usef menyampaikan bahwa peninjauan tersebut menjadi kesempatan bagi guru untuk mengevaluasi kelengkapan perangkat ajar dan pelaksanaan pembelajaran yang selama ini diterapkan di kelas.

“Pembelajaran sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi tidak hanya menuntut murid memahami konsep, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan berbagai fenomena di lingkungan sekitar. Karena itu, pembiasaan di kelas dan penguatan literasi sangat penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis serta memperdalam pemahaman murid. Arahan dari tim auditor menjadi masukan bagi kami untuk terus menyempurnakan proses pembelajaran,” jelas Usef.

Usef menambahkan bahwa pembelajaran sosial humaniora perlu memberikan ruang bagi murid untuk membaca, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menganalisis berbagai persoalan. Melalui pendekatan tersebut, murid diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan sekaligus membangun sikap kritis dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Senada dengan hal tersebut, Amaliya menilai bahwa penguatan literasi perlu didukung oleh kebiasaan belajar yang konsisten dan dokumentasi yang jelas. Menurutnya, formulir khusus kegiatan literasi dapat membantu guru memantau pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.

Tertibkan Aset Negara, Kemenag Kabupaten Majalengka Gelar Sensus BMN di MIN 6 Majalengka

“Kami menyambut baik arahan dan saran yang diberikan dalam peninjauan ini. Adanya formulir khusus kegiatan literasi dapat membantu guru mendokumentasikan aktivitas murid secara lebih teratur, sehingga pelaksanaannya tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga dapat dievaluasi manfaatnya bagi pemahaman materi. Kami berharap penguatan literasi ini semakin mendorong murid untuk aktif membaca, memahami informasi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis,” tutur Amaliya.

Peninjauan bidang sosial humaniora ini merupakan bagian dari Audit Kinerja Rinci yang tidak hanya berorientasi pada kelengkapan administrasi, tetapi juga memperhatikan kualitas pelaksanaan program dan hasil yang dicapai. Melalui pemeriksaan serta pemberian arahan, guru memperoleh masukan untuk memperkuat keterpaduan antara perencanaan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan di kelas, dan evaluasi hasil belajar.

MAN 2 Majalengka diharapkan dapat menindaklanjuti masukan tersebut melalui penyempurnaan perangkat ajar, penguatan pembiasaan positif di kelas, serta pengembangan instrumen dokumentasi kegiatan literasi. Dengan upaya berkelanjutan ini, kualitas pembelajaran sosial humaniora diharapkan semakin meningkat dan mampu membentuk murid yang berwawasan luas, literat, kritis, serta memiliki pemahaman yang baik terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Kontributor: Reni Tania Nurmala

Prestasi Membanggakan, MTsN 5 Majalengka Gelar Pengalungan Medali Pramuka Garuda

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *