Jatiwangi (KEMENAG) — Kepedulian terhadap peserta didik tidak berhenti di ruang kelas. Wali Kelas XII B Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Majalengka, Ida Nurparida, S.Pd., bersama perwakilan siswa menunjukkan perhatian kepada salah satu siswa yang sedang sakit melalui kunjungan langsung ke kediamannya di Desa Mekarsari, Kecamatan Jatiwangi, Kamis (1/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya wali kelas memperkuat pendampingan peserta didik melalui pendekatan parenting yang menempatkan guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai sosok yang memberikan perhatian, dukungan, dan penguatan kepada siswa ketika menghadapi kondisi tertentu.
Kedatangan wali kelas bersama perwakilan siswa disambut oleh keluarga siswa. Dalam suasana kekeluargaan, rombongan menyampaikan doa dan dukungan moral sekaligus menanyakan kondisi kesehatan siswa. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memberikan semangat kepada siswa agar segera pulih dan kembali mengikuti kegiatan pembelajaran di madrasah.
Ida Nurparida mengatakan bahwa perhatian kepada siswa merupakan bagian dari tanggung jawab seorang wali kelas. Menurutnya, hubungan antara guru dan siswa perlu dibangun tidak hanya berdasarkan kegiatan pembelajaran, tetapi juga melalui komunikasi dan kepedulian terhadap kondisi pribadi peserta didik.
“Pendampingan siswa tidak hanya dilakukan ketika mereka berada di dalam kelas. Ketika ada siswa yang sakit, kami merasa perlu hadir dan memberikan dukungan. Kunjungan ini menjadi bentuk perhatian sekaligus upaya membangun kedekatan antara wali kelas, siswa, dan orang tua,” ujar Ida.
Ia menambahkan, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi wali kelas untuk berkomunikasi langsung dengan keluarga siswa. Informasi mengenai kondisi siswa dapat menjadi bahan bagi madrasah dalam memberikan pendampingan ketika siswa kembali mengikuti pembelajaran.
Menguatkan Peran Wali Kelas
Dalam lingkungan madrasah, wali kelas memiliki peran strategis dalam mendampingi peserta didik. Selain memantau perkembangan akademik, wali kelas juga berperan dalam memperhatikan perkembangan sikap, kedisiplinan, interaksi sosial, serta kondisi peserta didik selama mengikuti pendidikan.
Pendekatan parenting yang dilakukan melalui kunjungan rumah menjadi salah satu bentuk pendampingan yang dapat memperkuat hubungan antara madrasah dan keluarga. Guru dapat memperoleh gambaran lebih utuh mengenai kondisi siswa, sementara orang tua mendapatkan ruang komunikasi secara langsung dengan pihak madrasah.
Bagi siswa, kehadiran guru dan teman-temannya ketika sedang mengalami sakit dapat memberikan dukungan psikologis dan rasa diperhatikan. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga semangat siswa selama menjalani masa pemulihan.
Kunjungan juga memberikan pembelajaran sosial bagi siswa yang ikut serta. Mereka diajak untuk memahami pentingnya menjenguk teman yang sedang sakit, memberikan doa, serta menunjukkan empati terhadap orang lain.
Membangun Budaya Peduli di Madrasah
Kepedulian terhadap sesama menjadi salah satu nilai yang terus dibangun dalam kehidupan peserta didik. Melalui kegiatan sederhana seperti kunjungan kepada teman yang sakit, siswa mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya solidaritas, empati, dan kepedulian sosial.
Ida berharap kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari budaya positif di lingkungan MAN 3 Majalengka.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa madrasah bukan hanya tempat untuk belajar mata pelajaran. Di sini mereka juga belajar menjadi manusia yang peduli, mampu menghargai orang lain, dan hadir ketika temannya membutuhkan dukungan,” katanya.
Kunjungan rumah tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara wali kelas dan orang tua. Komunikasi yang baik diharapkan dapat membantu madrasah dan keluarga mengambil langkah yang tepat dalam mendampingi perkembangan peserta didik.
Ke depan, komunikasi antara wali kelas, siswa, dan orang tua akan terus dibangun melalui pemantauan perkembangan siswa, baik dalam aspek pembelajaran maupun kondisi sosial dan kesehariannya.
Melalui pola pendampingan yang mengedepankan kepedulian dan komunikasi tersebut, MAN 3 Majalengka berupaya menghadirkan layanan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi tumbuhnya karakter, empati, dan kepedulian sosial peserta didik.
Kehadiran wali kelas di rumah siswa menjadi pesan sederhana bahwa perhatian seorang guru tidak selalu berakhir ketika bel pembelajaran berbunyi. Di tengah proses pendidikan, ada kepedulian yang terus berjalan untuk memastikan setiap peserta didik merasa diperhatikan, didampingi, dan menjadi bagian penting dari keluarga besar madrasah.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar