Berita Daerah KUA

Penyuluh Agama KUA Banjaran Ajak Jamaah Majelis Taklim Nuurul Faalah Memaknai Syukur dalam Kehidupan

Banjaran (KEMENAG) – Rasa syukur tidak hanya diucapkan melalui lisan, tetapi perlu hadir dalam hati dan diwujudkan melalui amal perbuatan. Pesan tersebut menjadi salah satu pokok kajian yang disampaikan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Banjaran, Yusuf Ependi Riana, S.Ag., dalam kegiatan penyuluhan keagamaan di Majelis Taklim Nuurul Faalah, Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka, Senin (5/10/2026).

Mengangkat tema “Bersyukur dalam Kehidupan Menurut Imam Al-Ghazali dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah”, Yusuf mengajak jamaah untuk tidak memandang syukur sebatas ungkapan alhamdulillah ketika memperoleh kenikmatan. Menurutnya, syukur merupakan sikap batin yang harus tercermin dalam ucapan sekaligus perilaku sehari-hari.

Dalam kajiannya, Yusuf menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga rukun utama, yaitu syukur bil qalbi, syukur bil lisan, dan syukur bil arkan.

Rukun pertama adalah syukur bil qalbi, yakni menyadari dan mengakui dalam hati bahwa setiap nikmat yang diterima pada hakikatnya berasal dari Allah SWT.

“Ketika kita sehat, memiliki keluarga, mendapatkan rezeki, memiliki kesempatan beribadah dan menjalani kehidupan dengan baik, semuanya merupakan nikmat dari Allah. Kesadaran itu harus terlebih dahulu tumbuh di dalam hati,” jelas Yusuf.

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

Menurutnya, kesadaran tersebut penting agar manusia tidak mudah terjebak pada sikap merasa bahwa keberhasilan semata-mata merupakan hasil kemampuan dirinya sendiri.

Syukur dalam hati juga mengajarkan seseorang untuk melihat kehidupan secara lebih positif. Nikmat yang besar maupun yang sederhana tetap memiliki nilai ketika disadari sebagai karunia Allah SWT.

Rukun kedua adalah syukur bil lisan, yaitu mengungkapkan rasa syukur melalui ucapan. Salah satu bentuk yang paling sederhana adalah memperbanyak hamdalah, dzikir, doa, serta perkataan yang baik.

Namun Yusuf mengingatkan bahwa lisan orang yang bersyukur bukan hanya banyak mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menjaga perkataannya.

“Syukur melalui lisan bukan hanya mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menjaga lisan dari keluhan yang berlebihan, ghibah, fitnah dan perkataan yang menyakiti orang lain. Lisan yang bersyukur seharusnya menjadi sumber kebaikan,” ungkapnya.

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Dengan demikian, ucapan syukur tidak berhenti pada kata, tetapi menjadi energi untuk menghadirkan komunikasi yang santun dan menenangkan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Rukun ketiga adalah syukur bil arkan, yaitu menunjukkan rasa syukur melalui anggota badan dan amal perbuatan.

Yusuf memberikan penekanan bahwa nikmat kesehatan, misalnya, semestinya digunakan untuk melakukan kebaikan. Nikmat harta dapat diwujudkan melalui sedekah dan membantu sesama. Nikmat ilmu dapat diwujudkan dengan mengajarkannya kepada orang lain.

“Kalau Allah memberikan kita nikmat kesehatan, gunakan untuk beribadah dan membantu orang lain. Kalau diberi ilmu, ajarkan. Kalau diberi rezeki, berbagi. Jadi, ukuran syukur tidak hanya apa yang kita ucapkan, tetapi juga apa yang kita lakukan,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, seseorang yang benar-benar memahami makna syukur akan berusaha menjadikan setiap nikmat sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberikan manfaat bagi sesama.

Kepala MTsN 3 Majalengka Ikuti Pendampingan Pemetaan Potensi Conflict of Interest

Lebih jauh, Yusuf mengajak jamaah Majelis Taklim Nuurul Faalah untuk membangun kebiasaan bersyukur dalam berbagai keadaan. Menurutnya, syukur bukan berarti menutup mata terhadap persoalan hidup, melainkan mengajarkan manusia untuk tetap melihat adanya nikmat dan hikmah di tengah berbagai keadaan.

Dalam kehidupan keluarga, sikap syukur dapat diwujudkan dengan menghargai pasangan, mendidik anak dengan penuh kasih sayang dan tidak mudah membandingkan kehidupan keluarga sendiri dengan kehidupan orang lain.

Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, rasa syukur dapat diwujudkan melalui kepedulian, gotong royong, membantu mereka yang membutuhkan dan menjaga hubungan baik antarsesama.

Kegiatan penyuluhan tersebut menjadi bagian dari kontribusi KUA Kecamatan Banjaran dalam menghadirkan layanan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang dekat dengan masyarakat. Kehadiran penyuluh agama di tengah majelis taklim diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga mendorong tumbuhnya praktik keberagamaan yang mampu menjawab kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk membawa pulang sebuah kesadaran sederhana namun mendalam: syukur dimulai dari hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan.

Dengan membangun tiga dimensi syukur tersebut, kehidupan beragama diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi karakter yang menghadirkan ketenangan bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

Kontributor : Sofwan Farohi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *