Berita Daerah

Lestarikan Bahasa Daerah, Pembina Upacara Sampaikan Amanat Upacara Menggunakan Bahasa Sunda

Cingambul (KEMENAG) — Suasana berbeda mewarnai pelaksanaan upacara bendera di MTsN 11 Majalengka, Senin (5/10/2026). Pada kesempatan tersebut, amanat pembina upacara disampaikan menggunakan bahasa Sunda sebagai bagian dari upaya mengenalkan sekaligus menumbuhkan kesadaran siswa untuk melestarikan bahasa daerah.

Bertindak sebagai pembina upacara, Euis Maryamah, S.Pd., guru Bahasa Sunda MTsN 11 Majalengka, menyampaikan amanat dengan menggunakan bahasa Sunda di hadapan seluruh peserta upacara yang berlangsung di lapangan madrasah.

Dalam amanatnya, Euis mengajak para siswa untuk tetap bangga menggunakan dan melestarikan bahasa Sunda sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Menurutnya, perkembangan zaman yang ditandai dengan arus modernisasi dan globalisasi tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan bahasa daerah.

Sebagai generasi penerus, siswa diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri budaya. Penggunaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, menurutnya, merupakan bagian dari kemampuan yang penting, tetapi bahasa daerah tetap perlu dipelajari, dipahami, dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari sesuai konteksnya.

“Sebagai orang Sunda, kita harus tetap melestarikan bahasa daerah kita. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, jangan sampai kita meninggalkan bahasa Sunda hanya karena ingin terlihat keren dengan membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing,” tutur Euis dalam amanatnya.

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Ia juga menekankan pentingnya memahami tata bahasa Sunda, termasuk penggunaan ragam bahasa yang disesuaikan dengan lawan bicara. Cara berbicara kepada teman sebaya tentu berbeda dengan cara berbicara kepada orang yang lebih tua.

Menurut Euis, kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga erat kaitannya dengan kesopanan dan tatakrama. Pemilihan kata serta cara menyampaikan sesuatu perlu memperhatikan siapa yang diajak berbicara agar komunikasi tetap santun dan menghargai lawan bicara.

“Tatakrama harus didahulukan dalam berbahasa dan berkomunikasi. Kita harus tahu bagaimana berbicara kepada teman dan bagaimana berbicara kepada orang yang lebih tua. Keduanya harus dibedakan,” pesannya.

Penyampaian amanat menggunakan bahasa Sunda tersebut menjadi momentum edukatif bagi siswa MTsN 11 Majalengka untuk kembali mengenal bahasa daerah sekaligus memahami nilai kesopanan yang terkandung di dalamnya.

Melalui kegiatan sederhana dalam upacara bendera, madrasah turut memberikan ruang bagi pelestarian bahasa dan budaya daerah. Diharapkan, para siswa tidak hanya mampu mengikuti perkembangan global, tetapi juga tetap memiliki kecintaan terhadap bahasa, budaya, dan jati diri daerahnya.

Kepala MTsN 3 Majalengka Ikuti Pendampingan Pemetaan Potensi Conflict of Interest

Kontributor: Riyan Mardiyana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *