Berita Kemenag

Kajian Al-Hikam: Kedekatan kepada Allah Menjadi Sumber Nikmat Hakiki

Majalengka (KEMENAG) – Dalam upaya meningkatkan kualitas spiritual dan pembinaan mental Aparatur Sipil Negara (ASN), Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menggelar Kajian Rutin Senin Pagi pada Senin (05/10/2026). Bertempat di Masjid Al Ikhlas Kemenag Majalengka, kegiatan pembinaan kerohanian ini diikuti dengan penuh kekhidmatan oleh seluruh karyawan dan pimpinan di lingkungan instansi setempat.

Secara kronologis, kajian kerohanian pada minggu pertama bulan Oktober 2026 ini mengupas secara mendalam tentang tasawuf melalui Kitab Al-Hikam. Fokus pembahasan menitikberatkan pada penjabaran Hikmah ke-225 karya ulama sufi termasyhur, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari. Bertindak sebagai penceramah, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kemenag Kabupaten Majalengka, Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., menyampaikan tausiah yang menyentuh hakikat kepemimpinan dan sikap rendah hati.

Dalam pemaparannya, Dr. H. Ojun Rojun memberikan refleksi mendalam kepada para abdi negara terkait bagaimana menyikapi sebuah amanah agar terhindar dari penyakit hati, khususnya saat sedang berada di posisi puncak.

“Andaikan kita memangku jabatan, bagaimana caranya ketika jabatan itu hilang kita tidak sedih? Yaitu jangan sombong,” tegas Dr. H. Ojun Rojun dalam kajiannya.

Beliau menjabarkan bahwa pada hakikatnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri dan keluarganya di rumah. Segala kedudukan dan harta yang dimiliki di dunia ini murni merupakan titipan dari Allah Swt. Menurutnya, sebuah barang titipan tidak semestinya membuat seseorang lupa diri, apalagi sampai menyombongkan diri. Hakikat kebahagiaan yang sejati bersumber dari kedekatan kepada Sang Pencipta, bukan pada atribut duniawi.

Supervisi Tiga KUA, Kasi Bimas Islam Majalengka Tekankan Profesionalisme dan Kepatuhan Regulasi

“Kesimpulannya adalah ketika sedang bahagia, jangan lupa daratan. Kehidupan ini berputar, ada bahagia ada kesedihan, ada kesulitan ada kemudahan. Kita harus bersama-sama mengatur hati kita pada situasi apa pun yang menimpa kita,” pesan beliau menutup pemaparan materi.

Tujuan utama dari rutinitas kajian ini adalah untuk menjaga stabilitas emosional dan memperkokoh fondasi keimanan pegawai di tengah dinamika pekerjaan. Bagi para ASN, tausiah spiritual ini sangat bermanfaat sebagai benteng diri dan sarana muhasabah agar selalu bekerja dengan niat ibadah. Sebagai tindak lanjut, nilai-nilai kebijaksanaan mengelola hati ini akan terus diinternalisasi melalui pembiasaan budaya kerja yang ikhlas dan antikesombongan.

Melalui siraman rohani yang berkesinambungan ini, diharapkan dapat lahir figur abdi negara yang berintegritas, tawadu, dan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi. Lebih jauh, pengelolaan hati yang bijak ini diharapkan mampu memberikan dampak positif yang nyata terhadap peningkatan profesionalitas dan kualitas layanan prima pada lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majalengka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *