Banjaran (KEMENAG) – Ada sesuatu yang berbeda di KUA Kecamatan Banjaran, Selasa (29/9/2026). Bukan hanya aktivitas pelayanan masyarakat yang terdengar, tetapi juga lantunan suara yang perlahan menyatu dalam sebuah harmoni.
Sejumlah Penyuluh Agama dari wilayah Kabupaten Majalengka berkumpul untuk mengikuti latihan paduan suara. Mereka sedang mempersiapkan diri menghadapi Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Penyuluh Agama tingkat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat yang rencananya akan digelar di Kabupaten Sumedang.
Di antara suara sopran, alto, tenor, dan bas yang sedang berlatih, terselip semangat sederhana: ingin memberikan penampilan terbaik sekaligus membawa nama baik para penyuluh agama Kabupaten Majalengka.
KUA Kecamatan Banjaran turut mengambil bagian. Ani Nuraeni, S.H., Penyuluh Agama Islam KUA Banjaran, menjadi salah satu perwakilan yang mengikuti latihan paduan suara tersebut.
Bagi Ani, latihan paduan suara bukan sekadar persiapan menghadapi sebuah perlombaan. Ada pelajaran penting yang justru sangat dekat dengan tugas seorang penyuluh agama, yakni belajar mendengar, memahami, menyesuaikan diri, dan membangun harmoni bersama.
“Dalam paduan suara, kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus mendengarkan suara yang lain, mengikuti tempo, menjaga nada, dan saling menguatkan. Saya kira ini juga menjadi gambaran bagaimana kita menjalankan tugas sebagai penyuluh di masyarakat,” ungkap Ani.
Belajar Harmoni dari Sebuah Lagu

Latihan berlangsung dalam suasana serius namun tetap hangat. Sesekali suara harus diulang ketika nada belum tepat. Ada bagian yang perlu diperbaiki, ada tempo yang harus disamakan, dan ada suara yang harus kembali disesuaikan.
Namun justru di situlah letak menariknya.
Tidak ada suara yang harus menjadi paling dominan. Setiap orang memiliki bagian masing-masing. Ketika seluruh bagian mampu berjalan bersama, lahirlah sebuah harmoni.
Semangat itulah yang kemudian dibawa para penyuluh dalam persiapan menuju Porseni tingkat Kanwil Jawa Barat.
Kepala KUA Kecamatan Banjaran, Taufik Rohman, S.Ag., menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap keterlibatan Ani Nuraeni dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan Porseni dapat menjadi ruang bagi para penyuluh untuk mengembangkan potensi sekaligus memperkuat silaturahmi dan kebersamaan.
“Porseni bukan hanya tentang siapa yang tampil dan siapa yang menjadi juara. Ada semangat kebersamaan, silaturahmi, dan ruang untuk menunjukkan bahwa penyuluh agama juga memiliki kreativitas dan potensi yang beragam,” tuturnya.
Ia berharap persiapan yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta.
“Kami tentu mendukung dan mendoakan agar persiapannya lancar. Semoga nanti bisa tampil maksimal dan membawa semangat positif untuk KUA Banjaran serta Kementerian Agama Kabupaten Majalengka,” lanjut Taufik.
Bukan Sekadar Bernyanyi
Penyuluh agama selama ini dikenal dekat dengan masyarakat melalui berbagai aktivitas pembinaan keagamaan. Mereka hadir di tengah masyarakat untuk memberikan edukasi, pendampingan, konsultasi, serta penguatan nilai-nilai keagamaan.
Namun di balik tugas tersebut, para penyuluh juga memiliki ruang untuk mengembangkan potensi seni, olahraga, kreativitas, dan kebersamaan.
Porseni menjadi salah satu ruang tersebut.
Latihan paduan suara yang berlangsung di KUA Banjaran memperlihatkan bahwa menjadi penyuluh tidak hanya tentang berbicara di depan masyarakat. Ada pula kemampuan untuk bekerja dalam tim, membangun komunikasi, menghargai peran orang lain, dan menciptakan sesuatu secara bersama-sama.
Satu suara mungkin terdengar sederhana. Tetapi ketika banyak suara disatukan dengan latihan, disiplin, dan kebersamaan, ia dapat menjadi harmoni yang indah.
Dari Banjaran, suara itu kini sedang dipersiapkan untuk menuju Sumedang.
Bukan sekadar mengejar penampilan terbaik, tetapi membawa pesan bahwa penyuluh agama adalah insan yang terus belajar, berkarya, berkolaborasi, dan hadir dengan semangat kebersamaan.
Dan seperti sebuah paduan suara, setiap orang mungkin memiliki suara yang berbeda. Namun ketika diarahkan pada tujuan yang sama, perbedaan itu justru menjadi kekuatan.
Kontributor : Sofwan Farohi


Komentar