Berita Daerah MAN

Dalami Berbagai Teori Peristiwa G30S, Murid MAN 2 Majalengka Dilatih Berpikir Kritis

Rajagaluh (KEMENAG) — Murid kelas XII.7 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Majalengka mengikuti pembelajaran Sejarah dengan materi teori Gerakan 30 September (G30S) yang dibimbing oleh Guru Sejarah, Usef Saefulloh, S.Hum., pada jam pelajaran ke-10 dan ke-11, Kamis (1/10/2026). Pembelajaran tersebut diarahkan untuk memperluas pemahaman murid mengenai berbagai teori dan interpretasi yang berkembang dalam kajian sejarah peristiwa nasional tersebut.

Dalam kegiatan pembelajaran, murid memahami bahwa peristiwa G30S merupakan salah satu momen krusial dalam sejarah Indonesia tahun 1965 yang berkaitan erat dengan dinamika politik serta kondisi sosial masa itu. Pembahasan dilakukan dengan menelaah beragam sumber dan sudut pandang agar murid dapat memahami kompleksitas suatu peristiwa sejarah.

Secara komprehensif, murid diperkenalkan pada sejumlah teori mengenai pihak yang dinilai memiliki keterlibatan dalam peristiwa G30S. Teori-teori tersebut meliputi dugaan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI), dinamika konflik internal Angkatan Darat, teori yang mengaitkan dengan Presiden Soekarno, hingga peranan serta kepentingan pihak asing.

Mengingat setiap teori memiliki dasar argumentasi dan sumber kajian masing-masing, murid diarahkan untuk tidak menerima suatu sudut pandang sebagai kebenaran tunggal. Sebaliknya, mereka diajak mendalami bukti, konteks, dan historiografi yang membangun setiap interpretasi.

Usef Saefulloh menjelaskan bahwa pendalaman materi teori G30S sangat penting guna melatih ketajaman dan kemampuan analisis kritis para murid dalam membaca sejarah.

Kemenag Majalengka Himbau ASN Madrasah Tunaikan Zakat Profesi

“Mempelajari teori G30S bukan sekadar menghafal satu versi cerita. Murid perlu memahami berbagai interpretasi yang berkembang, kemudian melihat sumber dan argumentasi yang mendasarinya. Dengan begitu, mereka dapat belajar berpikir kritis dalam memahami sebuah peristiwa sejarah,” ujar Usef.

Ia menambahkan, pendidikan sejarah di kelas sudah sepatutnya membiasakan peserta didik dalam membedakan antara fakta sejarah, bentuk interpretasi, dan wacana yang berkembang di tengah masyarakat.

“Saya berharap murid mampu menyikapi sejarah dengan bijak. Ketika menemukan informasi tentang suatu peristiwa, mereka perlu melihat sumbernya, memahami konteksnya, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan,” tambahnya.

Melalui pendalaman materi ini, pembelajaran Sejarah di kelas XII.7 MAN 2 Majalengka menjadi wadah edukatif yang tidak hanya memperluas wawasan historis murid, tetapi juga membentuk nalar kritis serta sikap objektif dalam memahami dinamika perjalanan bangsa.

Kontributor: Reni Tania Nurmala

Buka Perkemahan, Kepala Kankemenag Majalengka: Kepramukaan Memiliki Peran Penting Dalam Membentuk Kepribadian

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *