Jatiwangi (KEMENAG) — Peringatan Hari Batik Nasional di MAN 3 Majalengka menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen warga madrasah dalam menjadikan budaya sebagai ruang pemersatu bangsa. Di lingkungan madrasah, keberagaman budaya dipandang sebagai kekayaan yang dapat dirawat bersama, sementara nilai-nilai agama menjadi spirit dalam membangun persatuan dan kehidupan kebangsaan.
Kepala MAN 3 Majalengka, Hj. Ela Nurlaela, M.Pd., mengatakan batik dapat menjadi salah satu simbol budaya yang mempertemukan masyarakat Indonesia di tengah keberagaman daerah, suku, dan tradisi.
“Batik mengajarkan kita bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpisah. Setiap daerah memiliki motif dan karakter yang berbeda, tetapi semuanya menjadi bagian dari budaya Indonesia. Karena itu, budaya harus kita rawat sebagai salah satu kekuatan yang mempersatukan bangsa,” ujar Hj. Ela disaat meninjau kegiatan Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, pendidikan di madrasah memiliki ruang penting untuk mempertemukan nilai budaya dan nilai keagamaan. Keduanya dapat dikenalkan kepada peserta didik melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan mereka.
“Agama juga menjadi spirit dalam membangun persatuan. Nilai-nilai agama mengajarkan kita untuk saling menghargai, menjaga persaudaraan, dan hidup berdampingan dalam perbedaan. Nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan warga madrasah,” katanya.
Peringatan Hari Batik Nasional di MAN 3 Majalengka tidak hanya diisi dengan penggunaan busana batik. Siswa dan guru juga mengikuti kegiatan menggambar motif batik. Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal budaya melalui kreativitas sekaligus membangun kebersamaan.
Hj. Ela menilai kegiatan budaya di lingkungan pendidikan tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kegiatan besar. Aktivitas sederhana yang melibatkan siswa dan guru secara bersama-sama dapat menjadi ruang untuk menanamkan apresiasi terhadap budaya dan kebersamaan.
“Ketika siswa dan guru mengenakan batik, menggambar motif, dan berkegiatan bersama, di situ ada pesan tentang kebersamaan. Kita memiliki perbedaan, tetapi dapat bertemu dalam budaya dan nilai-nilai kebaikan,” tuturnya.
Ia menegaskan, komitmen merawat budaya dan persatuan perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada momentum peringatan Hari Batik Nasional.
Melalui peringatan tersebut, MAN 3 Majalengka berupaya menghadirkan budaya dan nilai keagamaan dalam satu ruang pendidikan. Batik menjadi simbol kekayaan budaya, sedangkan nilai agama menjadi spirit untuk merawat kebersamaan dan memperkuat persatuan bangsa.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar