Sebanyak 552 peserta didik dari 12 Raudhatul Athfal (RA) di lingkungan Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA) 2 Kecamatan Cingambul mengikuti edukasi dan mitigasi bencana kebakaran yang bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran, Kamis (29/10/2026). Bertempat di Lapangan Cingambul, kegiatan ini mengajak anak-anak mengenali bahaya kebakaran, memahami langkah pencegahan, serta belajar menyelamatkan diri ketika menghadapi situasi darurat.
Materi disampaikan dengan pendekatan yang menarik dan interaktif agar mudah dipahami anak usia dini. Melalui pengenalan langsung dan penjelasan dari petugas pemadam kebakaran, peserta didik diajak memahami bahwa keselamatan diri merupakan hal penting yang perlu dibiasakan sejak kecil.
Pengenalan terhadap risiko kebakaran menjadi salah satu materi utama. Petugas menjelaskan sejumlah hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran, seperti bermain korek api, membiarkan lilin menyala tanpa pengawasan, kebocoran gas, hingga penggunaan peralatan listrik yang tidak aman. Penjelasan tersebut diberikan dengan bahasa sederhana agar anak-anak dapat mengenali benda dan kondisi yang berpotensi membahayakan.
Selain mengetahui penyebabnya, peserta didik juga mendapatkan pemahaman tentang cara mencegah kebakaran. Mereka diajarkan untuk tidak bermain dengan benda-benda yang dapat menghasilkan api, menjauhi kompor maupun sumber panas lainnya, serta segera memberi tahu guru, orang tua, atau orang dewasa apabila melihat sesuatu yang berpotensi menimbulkan bahaya.
Ketua KKRA 2 Majalengka, Dr. Asep Mumung, menyampaikan pengetahuan tersebut menjadi bekal awal bagi anak-anak untuk lebih berhati-hati dalam beraktivitas, baik di rumah maupun di lingkungan madrasah.
“Dengan mengenali potensi bahaya sejak dini, mereka diharapkan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” jelasnya
Materi berikutnya membahas langkah penyelamatan apabila terjadi kebakaran. Petugas mengajarkan agar anak-anak tidak panik, segera menjauh dari sumber api, mengikuti arahan guru atau orang dewasa, dan menuju tempat aman atau titik kumpul yang telah ditentukan. Pemahaman ini penting karena dalam situasi darurat, kepatuhan terhadap arahan orang dewasa menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga keselamatan anak.
Peserta juga diperkenalkan dengan bahaya asap kebakaran yang dapat mengganggu kesehatan dan membahayakan pernapasan. Apabila berada di area yang dipenuhi asap, anak-anak diajarkan untuk merendahkan posisi tubuh dan segera bergerak keluar menuju tempat aman dengan pendampingan orang dewasa.
Pembelajaran mitigasi semakin lengkap melalui pengenalan berbagai peralatan pemadam kebakaran. Petugas memperlihatkan mobil pemadam, selang air, alat pelindung diri, serta alat pemadam api ringan (APAR). Anak-anak mendapat kesempatan mengenal fungsi perlengkapan tersebut sekaligus memahami bagaimana petugas bekerja saat menangani kebakaran.
Pengalaman ini memberikan gambaran lebih dekat mengenai tugas petugas pemadam kebakaran. Mereka diperkenalkan bahwa pekerjaan pemadam kebakaran bukan semata-mata memadamkan api, melainkan juga mencakup kegiatan penyelamatan dan penanganan berbagai kondisi kedaruratan yang membutuhkan keterampilan serta kesiapsiagaan.
Keterlibatan 12 RA dalam kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kerja sama antarmadrasah dalam memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat bagi peserta didik. Dengan jumlah peserta yang mencapai 552 anak dan didampingi 68 guru, edukasi mitigasi kebakaran menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya lingkungan yang aman.

Upaya tersebut sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan RA. Anak-anak tidak hanya belajar menjaga keselamatan diri, tetapi juga mulai dibiasakan untuk bersikap waspada, berani meminta pertolongan, mematuhi aturan, dan peduli terhadap keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Melalui kegiatan ini, KKRA 2 Kecamatan Cingambul turut memperkuat peran madrasah dalam menanamkan budaya keselamatan sejak dini. Pengetahuan yang diperoleh 552 peserta didik dan 68 guru diharapkan terus diterapkan dalam lingkungan pendidikan maupun keluarga, sehingga madrasah semakin mampu menghadirkan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Editor: D. Win


Komentar