Rajagaluh (KEMENAG) — Puluhan murid kelas X.11 Tata Busana (Tabus) MAN 2 Majalengka mengasah keterampilan dasar menjahit melalui praktik pembuatan beragam tusuk jahit dan tusuk hias pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan pembelajaran prakarya dan kewirausahaan berbasis vokasional yang berlangsung di ruang kelas tersebut dibimbing langsung oleh guru pengampu Tata Busana, Tuti Suryani, S.Pd., guna melatih ketelitian serta mengembangkan kreativitas murid dalam merancang karya busana yang rapi dan estetis.
Dalam proses pembelajaran intensif tersebut, para murid mempelajari sekaligus mempraktikkan dua kelompok teknik penjahitan dasar. Kelompok pertama adalah tusuk jahit fungsional yang meliputi tusuk jelujur untuk penyatuan kain sementara serta tusuk tikam jejak yang menghasilkan kekuatan simpul menyerupai jahitan mesin manual. Sementara kelompok kedua berfokus pada tusuk hias dekoratif, seperti tusuk feston untuk merapikan tepi kain, tusuk rantai guna membentuk garis motif, tusuk silang untuk ornamen pola, hingga tusuk tangkai yang difungsikan pada garis lengkung sulaman.
Praktik hands-on ini menuntut keterlibatan fisik dan fokus tinggi dari para siswa. Mereka melatih ketepatan dalam memegang jarum, mengatur proporsi jarak tusukan, mengontrol ketegangan benang, hingga memastikan konsistensi bentuk setiap jahitan. Kerapian serta keseragaman hasil karya menjadi indikator utama dalam mengukur tingkat keberhasilan praktik dasar ini.
Di sela-sela pendampingan materi, Guru Tata Busana MAN 2 Majalengka, Tuti Suryani, S.Pd., menegaskan bahwa penguasaan teknik dasar tusuk jahit dan hias merupakan fondasi paling krusial sebelum murid melangkah ke tahap pembuatan busana yang lebih rumit. Menurutnya, pemahaman mengenai karakter dan fungsi masing-masing tusukan akan menentukan daya tahan serta estetika produk kain yang dihasilkan.
“Penguasaan berbagai jenis tusuk menjadi dasar penting dalam keterampilan menjahit. Murid perlu memahami fungsi setiap tusuk sekaligus berlatih menghasilkan jahitan yang rapi, kuat, dan sesuai dengan penggunaannya. Ketelitian dalam tahap dasar ini akan sangat membantu ketika mereka mengerjakan produk busana yang lebih kompleks,” jelas Tuti.
Tuti juga secara konsisten memotivasi para murid agar tetap tekun, sabar, dan tidak berkecil hati saat menghadapi kendala teknis, seperti benang terbelit atau kerapian yang belum konsisten. Ia menekankan pentingnya menghargai setiap alur proses belajar ketimbang hanya berfokus pada hasil akhir semata.
“Saya berharap murid semakin terampil, sabar, dan kreatif dalam mengerjakan setiap tugas praktik. Jangan hanya mengejar hasil akhir, tetapi perhatikan juga proses, kerapian, dan ketepatan teknik. Dengan latihan yang konsisten, keterampilan menjahit dapat terus berkembang dan menjadi bekal yang bermanfaat,” tambah Tuti.
Melalui program pembelajaran vokasional yang terstruktur ini, pihak madrasah berkomitmen untuk membekali para siswa dengan keahlian praktis yang aplikatif. Penguasaan berbagai teknik tusuk jahit dan hias ini diharapkan mampu membentuk karakter mandiri, memicu inovasi desain, sekaligus mempersiapkan mentalitas kerja para murid dalam menghadapi tantangan kurikulum tata busana pada tingkat yang lebih lanjut.
Kontributor: Reni Tania Nurmala


Komentar