Jatiwangi (KEMENAG) — Pembelajaran yang lebih efektif, metode mengajar yang semakin adaptif, dan meningkatnya kualitas pengalaman belajar siswa menjadi dampak nyata yang diharapkan dari Asesmen Kompetensi Guru dan Tenaga Kependidikan (AKGTK) 2026. Karena itu, pemetaan kompetensi guru tidak boleh berhenti pada pengumpulan data, tetapi harus ditindaklanjuti dengan pembinaan yang tepat sasaran dan perbaikan praktik pembelajaran di madrasah.
Firman Saefatullah, M.Pd., Guru Bahasa Arab MAN 3 Majalengka sekaligus peserta AKGTK 2026, menilai hasil pemetaan kompetensi memiliki peran strategis dalam menentukan arah pengembangan profesional pendidik. Menurutnya, informasi dari asesmen dapat membantu guru mengenali kemampuan yang perlu diperkuat sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi madrasah dalam merancang program peningkatan kompetensi berdasarkan kebutuhan nyata.
“Pemetaan kompetensi seharusnya menjadi titik awal untuk melakukan perbaikan, bukan sekadar menghasilkan data. Dari pemetaan tersebut, kebutuhan pengembangan guru dapat dikenali sehingga program pembinaan lebih tepat sasaran dan berdampak pada kualitas pembelajaran,” ujar Firman.
AKGTK Madrasah Tahun 2026 merupakan instrumen pemetaan kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Asesmen di MAN 3 Majalengka dilaksanakan pada Selasa hingga Kamis, 6–8 Oktober 2026, dengan lokasi kegiatan di titik kumpul madrasah. Firman mengikuti asesmen pada Selasa (6/10/2026) melalui mekanisme daring menggunakan laptop sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Firman, manfaat pemetaan akan terasa ketika hasilnya digunakan untuk menentukan kebutuhan pengembangan guru, baik dalam penguasaan materi, strategi pembelajaran, maupun pemanfaatan teknologi pendidikan. Dengan mengetahui aspek yang perlu ditingkatkan, guru dapat menyusun langkah perbaikan yang lebih terarah, sedangkan madrasah dapat merancang pembinaan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing pendidik.
Dampak tersebut diharapkan terlihat dalam kegiatan belajar mengajar, mulai dari pemilihan metode yang lebih sesuai, peningkatan keterlibatan siswa, hingga evaluasi pembelajaran yang lebih efektif. Tindak lanjut dapat dilakukan melalui pelatihan, diskusi profesional, forum musyawarah guru mata pelajaran, dan berbagi praktik baik antarguru agar hasil pemetaan tidak berhenti pada evaluasi individual.
Sebagai Guru Bahasa Arab, Firman menilai pengembangan kompetensi perlu diarahkan pada pembelajaran yang memberi ruang lebih besar bagi siswa untuk aktif menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Pendekatan serupa dapat diterapkan pada mata pelajaran lain dengan menyesuaikan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, peningkatan kompetensi guru dapat berkontribusi terhadap pengalaman belajar yang lebih bermakna.
MAN 3 Majalengka diharapkan dapat menjadikan AKGTK 2026 sebagai pijakan untuk memperkuat budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Melalui tindak lanjut yang terukur, kolaborasi antarguru, serta pembinaan berdasarkan kebutuhan, pemetaan kompetensi diharapkan menghasilkan perubahan nyata: guru yang semakin profesional, pembelajaran yang semakin berkualitas, dan peserta didik yang memperoleh layanan pendidikan yang lebih optimal.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar