Jatiwangi (KEMENAG) — Memahami kitab kuning membutuhkan ketekunan dalam mempelajari bahasa Arab. Upaya itu dilakukan santri MAN 3 Majalengka melalui Kajian Kitab Shorof Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah dengan materi tashrif lughowiy, yang dipandu Kepala Asrama, KH. Agus Jamaluddin, di majlis asrama lantai dua, Selasa malam (6/10/2026).
Santri putra dan putri mengikuti kajian dengan duduk bersila, membuka kitab, mencatat penjelasan, serta melafalkan pola perubahan kata bersama-sama. Suasana belajar yang sederhana tersebut menjadi ruang bagi santri untuk memperkuat pemahaman bahasa Arab sebagai bekal membaca kitab kuning.
Dalam kajian itu, santri mempelajari perubahan bentuk kata berdasarkan dhamir atau kata ganti pelaku. Penguasaan materi ini membantu mereka mengenali bentuk kata dan memahami maknanya dalam teks berbahasa Arab.
“Shorof itu ibarat kunci. Kalau kuncinya belum kita pegang, pintu kitab kuning akan terasa tertutup rapat. Tetapi kalau sudah paham, satu per satu pintu itu akan terbuka dengan sendirinya,” ungkap Agus.
Ia menjelaskan bahwa mempelajari tashrif lughowiy membutuhkan ketelitian karena perubahan harakat atau akhiran kata dapat memengaruhi makna. Santri perlu memahami pola perubahan tersebut melalui latihan yang konsisten, bukan hanya mengandalkan hafalan.
“Tashrif lughowiy itu melatih ketelitian. Satu perubahan harakat atau satu akhiran saja bisa mengubah pelaku dan maknanya. Karena itu, santri harus teliti, sabar, dan tidak bosan mengulang,” tuturnya.
Agus juga mengingatkan agar santri tidak terburu-buru menguasai materi. Pengulangan secara rutin dan kebiasaan belajar bersama menjadi bagian penting dalam memperkuat hafalan sekaligus meningkatkan pemahaman.
“Jangan terburu-buru ingin pandai. Ilmu itu dibangun sedikit demi sedikit: dihafal, dilatih, lalu diamalkan. Yang penting istikamah, meskipun hanya sedikit setiap hari,” katanya.
Selain penguasaan materi, Agus menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Menurutnya, kecerdasan perlu diimbangi sikap hormat kepada guru, kesungguhan belajar, dan akhlak yang baik.
“Keberkahan ilmu itu datang dari adab kepada guru dan kesungguhan dalam belajar. Pintar saja belum cukup kalau tidak disertai akhlak yang baik,” tambahnya.
Melalui Kajian Kitab Shorof Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, asrama MAN 3 Majalengka menjadi ruang pembinaan yang memadukan penguatan ilmu agama dengan pembentukan karakter. Dari majlis sederhana itu, santri diharapkan memperoleh bekal untuk memahami kitab kuning sekaligus menumbuhkan ketekunan, kedisiplinan, dan adab dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor : Firman Saefatullah


Komentar