Majalengka (KEMENAG) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menggelar kegiatan rutin pembinaan mental melalui Kajian Kitab Al-Hikam. Kegiatan yang sarat akan nilai spiritual ini dilaksanakan pada Senin (26/1/2026) di Masjid Al-Ikhlas Kantor Kemenag Majalengka.
Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd., Kasubag TU Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag., serta jajaran Kepala Seksi, Pengawas Madrasah, dan Pengawas PAI. Selain diikuti oleh seluruh pegawai Kemenag, hadir pula perwakilan pegawai dari Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Majalengka.
Kajian rutin ini dipandu oleh Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., Penyelenggara Zakat Wakaf Kantor Kemenag Majalengka, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia mengupas tuntas hikmah 163 dari kitab legendaris karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari tersebut.
مَنْ عَرَفَ الْحَقَّ شَهِدَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، وَمَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا.
“Barang siapa yang mengenal Allah SWT yang Maha Haq, maka dia akan melihat-Nya di dalam segala sesuatu. Dan barang siapa yang lebur di dalam Allah SWT, maka ia akan hilang dari segala sesuatu. Dan barang siapa yang mencintai Allah SWT, maka dia tidak akan mendahulukan segala sesuatu selain-Nya.”
Ojun menekankan pentingnya menghapus pandangan makhluk dan hanya mengharapkan pandangan Allah SWT. Menurutnya, seseorang yang telah mencapai derajat makrifat akan melihat keagungan Allah di balik setiap ciptaan-Nya.
“Barang siapa mengenal Al-Haq, ia akan melihat-Nya dalam segala sesuatu. Pada tingkatan ini, dunia dan isinya terasa seperti bayangan yang tidak berarti karena fokusnya hanya kepada Sang Pencipta,” ujar Ojun saat menjelaskan hikmah ke-163.
Lebih lanjut, ia mengaitkan tingkatan spiritual ini dengan realitas kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menyeimbangkan antara urusan ibadah dan pekerjaan. Merujuk pada Surah Thaha ayat 132,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى (١٣٢)
“Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa.”
Dari ayat di atas, ia mengingatkan agar para pegawai tidak perlu merasa khawatir akan rezeki saat mendahulukan perintah Allah.
“Terkadang kita diuji antara memilih salat atau urusan bisnis. Padahal, Allah telah menjamin bahwa manakala kita mengedepankan salat, maka Allah pula yang akan memudahkan dan menjamin rezeki kita,” tegasnya.
Di akhir kajian, Ojun memberikan poin-poin penting mengenai implementasi takwa dalam budaya kerja di lingkungan Kemenag Majalengka:
- Kesadaran Beribadah: Meniatkan setiap pekerjaan, termasuk hal kecil seperti membantu rekan sejawat, sebagai bentuk ibadah tanpa harus menunggu instruksi pimpinan.
- Rasa Memiliki: Menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) dan semangat saling membantu lintas fungsi atau unit kerja.
- Sikap Positif: Mengelola emosi dengan baik saat menghadapi kendala teknis atau keterlambatan, serta mengedepankan kerja sama tim.
Melalui kegiatan rutin ini, diharapkan seluruh pegawai di lingkungan Kemenag dan Kemenhaj Majalengka dapat meningkatkan integritas dan profesionalisme yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan yang kuat.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar