Majalengka (Humas Kemenag Majalengka) – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Majalengka kembali menyelenggarakan kegiatan rutin pembinaan mental melalui Kajian Kitab Al-Hikam. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (12/1/2026) ini bertempat di Masjid Al-Ikhlas Kemenag Majalengka dan diikuti oleh seluruh pegawai Kantor Kemenag serta Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Majalengka.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kemenag Majalengka, Dr. H. Agus Sutisna, S.Ag., M.Pd.; Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Majalengka, H. Abu Mansyur, S.Ag., M.Pd.I.; serta Kasubag TU Kemenag Majalengka, Dr. H. Heru Hoerudin, M.Ag. Turut serta jajaran Kepala Seksi, Pengawas Madrasah, dan Pengawas PAI di lingkungan Kemenag Majalengka.
Kajian kali ini menghadirkan Dr. H. Ojun Rojun, M.Ag., Penyelenggara Zakat Wakaf Kantor Kemenag Majalengka, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, beliau mengupas hikmah ke-161 yang berfokus pada pembahasan syirkul khafi atau syirik tersembunyi, yakni sifat riya.
اسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوْصِيَّتِكَ . . دَلِيْلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَتَكَ
“Keinginan seseorang yang sangat tinggi untuk diketahui keistimewaannya oleh sesama makhluk merupakan dalil atau bukti atas ketidakikhlasan dalam beribadah,” ujar Ojun saat menjelaskan teks asli kitab karya Syekh Ibnu Atha’illah tersebut.
Ia menekankan pentingnya bagi setiap pegawai untuk menanamkan sikap ikhlas dan merasa cukup dengan pengawasan serta penilaian Allah SWT semata dalam menjalankan tugas maupun ibadah.
Namun, Ojun juga memberikan pengecualian bahwa menampakkan amalan diperbolehkan bagi mereka yang telah memiliki iman yang kokoh (tamakkun) dengan tujuan sebagai syiar dan keteladanan agar orang lain mengikuti kebaikan tersebut.
Materi kajian kemudian dikuatkan oleh Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Majalengka, H. Abu Mansyur. Dalam tambahannya, ia mengingatkan agar rasa takut akan riya tidak justru membuat seorang hamba berhenti beramal. Ia mencontohkan bagaimana para sahabat Nabi tetap beribadah secara tampak namun dengan hati yang tetap terjaga.
“Sebagai ASN, pelaporan kinerja melalui unggahan kegiatan atau media sosial harus diniatkan sebagai bentuk pertanggungjawaban tugas kepada Allah melalui perantara makhluk, bukan semata-mata mencari popularitas atau sekadar viral,” pungkas Abu.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa bersama. Melalui kajian rutin ini, diharapkan seluruh pegawai di lingkungan Kemenag dan Kemenhaj Majalengka dapat meningkatkan kualitas spiritualitas dan integritas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kontributor : Endang Mu’min



Komentar