Oleh: Endang Mu’min
Segala puji bagi Allah yang mempertemukan kita dengan Ramadan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.
1. Fenomena “Tangan Terbelenggu, Layar Terbuka”
Ada sebuah ironi di bulan suci ini. Jika Rasulullah SAW bersabda bahwa di bulan Ramadan pintu surga dibuka dan setan-setan dibelenggu, namun kenyataannya kita sering menemukan “belenggu” baru dalam genggaman kita: Smartphone.
Kita berada dalam krisis fokus yang akut. Seringkali, tangan kita lebih sibuk mengatur sudut foto menu takjil demi konten daripada menengadahkan tangan untuk berdoa di waktu mustajab. Mata kita lebih betah menatap scroll media sosial berjam-jam daripada menatap baris-baris Mushaf. Setannya mungkin sedang terikat, tapi jari-jari kita justru sedang asyik “menjelajah” tanpa henti.
2. Belajar dari “Khalwat” Rasulullah
Jauh sebelum istilah Digital Detox atau Social Media Detox populer di kalangan milenial, Rasulullah SAW sudah memberikan teladan melalui Tahannuts. Beliau menyendiri di Gua Hira untuk menjernihkan pikiran dari kebisingan jahiliyah. Beliau mengambil jarak dari dunia untuk menemukan hakikat kebenaran.
Ramadan adalah waktu bagi kita untuk melakukan “Gua Hira” versi modern. Allah SWT mengingatkan kita betapa fana-nya hiburan duniawi dalam Al-Qur’an:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)
Ayat ini adalah “sentilan” bagi kita bahwa dunia digital dengan segala riuh rendahnya adalah bagian dari permainan tersebut. Jika tidak dibatasi, ia akan menyedot habis waktu emas kita yang hanya datang sebulan dalam setahun.
3. Strategi “Spiritual Recharge” di Bulan Ramadan
Bagaimana cara kita merebut kembali khusyuk yang hilang? Berikut adalah strategi praktis yang bisa kita terapkan:
- Puasa Notifikasi: Matikan notifikasi yang tidak darurat, terutama di waktu-waktu emas (sebelum berbuka, setelah sahur, dan saat tarawih). Jangan biarkan bunyi “ting” merusak dialog kita dengan Allah.
- Substitusi Digital: Gunakan hukum pertukaran. Jika biasanya kita kuat menatap layar selama 1 jam, tantang diri kita untuk membaca Al-Qur’an dengan durasi yang sama. Jadikan layar ponsel sebagai pengingat waktu shalat, bukan penghambat shalat.
- Adab Ber-Medsos: Gunakan jempol kita sebagai saksi kebaikan di akhirat kelak. Rasulullah SAW memberikan kriteria muslim yang berkualitas dalam sabdanya:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317)
4. Penutup: Waktunya “Pulang”
Ramadan adalah momentum untuk “pulang” kepada Allah. Jangan sampai kita hadir secara fisik di atas sajadah, namun hati dan pikiran kita masih tertinggal di kolom komentar atau trending topic.
Mari jadikan Ramadan ini sebagai titik balik. Saatnya kita log out dari urusan dunia yang tidak perlu, dan log in ke dalam kedamaian ibadah yang hakiki. Semoga Allah menerima setiap ruku’, sujud, dan usaha kita dalam menjaga fokus hanya kepada-Nya.
Sumber Referensi:
- Al-Qur’an al-Karim: Surah Al-An’am Ayat 32. Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab)
- Hadits Nabawi: Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (No. 2317) dan Ibnu Majah (No. 3976).
- Sejarah Nabawiyah: Mengenai praktik Tahannuts (berkhalwat) Rasulullah SAW di Gua Hira sebelum menerima wahyu, merujuk pada Shahih Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyi (Permulaan Wahyu), Hadits No. 3.
- Referensi Ulama: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin menyebutkan bahwa “Dalam hati terdapat kekusutan yang tidak bisa dirapi kecuali dengan menghadap Allah.”



Komentar