hikmah
Beranda » Berita » Maafkan Kami, Yaa Ramadan: Sebuah Refleksi dan Gugatan Diri

Maafkan Kami, Yaa Ramadan: Sebuah Refleksi dan Gugatan Diri

Oleh: Endang Mu’min

Setiap kali hilal Ramadan muncul di cakrawala, ia membawa aroma surga yang menenangkan jiwa. Sebagai anugerah agung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Ramadan adalah “tamu” yang paling dinanti oleh semesta. Namun, saat ia mulai melangkah pergi menuju penghujung hari, sebuah pertanyaan besar muncul menggugat nurani kita: Sudahkah kita memperlakukannya sebagai tamu yang mulia, ataukah kita hanya sekadar menyapanya di pintu tanpa benar-benar membiarkannya mengubah hati kita?

Puasa: Perisai dan Penebus Dosa

Ramadan adalah momentum kafarat (penebusan). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyampaikan bahwa ibadah sosial dan ritual kita adalah penghapus noda kesalahan:

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ

Menjemput Lailatul Qadar di Sela Deru Kesibukan: Strategi Spiritual bagi Masyarakat Urban

“Fitnah seseorang pada keluarganya, hartanya, dan tetangganya dapat ditebus dengan shalat, puasa, dan sedekah.” (HR. Bukhari & Muslim).

Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan dimensi pengabdian yang paling sunyi. Allah menyatakan dalam Hadits Qudsi:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Allah berfirman: ‘Semua amal anak Adam baginya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai…'” (HR. Bukhari).

Di titik inilah iman diuji. Saat dahaga mencekik dan tak ada mata manusia yang melihat, kita tetap teguh tidak menyentuh setetes air pun. Inilah bukti kejujuran iman yang menjadikan puasa sebagai Junnah (perisai) dari api neraka.

Siswa dan Guru Kristiani Majalengka Tanam Pohon di Kelenteng Jatiwangi, Usung Misi Toleransi dan Ekoteologi

Jejak Syahdu Para Salafush Shalih

Jika kita menengok lembaran sejarah para Salafush Shalih, kita akan menemukan standar cinta yang melampaui akal sehat kita hari ini. Mereka adalah kaum yang menghabiskan enam bulan sebelum Ramadan untuk berdoa agar dipertemukan dengan bulan suci: “Allahumma sallimni ila Ramadhana, wa sallim li Ramadhana, wa tasallamhu minni mutaqabbala.”

Mereka benar-benar menghidupkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memuji sifat hamba-hamba pilihan:

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan.” (QS. As-Sajdah: 16).

Menjemput Ketenangan: Mengubah Overthinking Menjadi Tawakkal

  • Dalam Keteguhan: Abdullah bin Zubair tetap tegak dalam shalat meski batu-batu dari manjanik jatuh di sekelilingnya.
  • Dalam Tangis: Umar bin Khattab memiliki garis hitam di pipinya, jejak air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah.
  • Dalam Tilawah: Mereka sangat serius dengan Al-Qur’an, seperti Usman bin Affan yang mengkhatamkannya setiap hari, atau Imam Asy-Syafi’i yang menghentikan aktivitas ilmiah lainnya demi berkonsentrasi penuh pada wahyu Allah.

Ramadan dalam Tatapan Kosong

Namun, mari sejenak kita bercermin. Bagaimana keadaan kita hari ini? Ramadan datang, namun barangkali ia menatap kita dengan tatapan kosong.

  • Malam-malam kita seringkali habis bukan untuk tilawah, melainkan untuk senda gurau di media sosial.
  • Siang-siang kita habis bukan untuk jihad melawan hawa nafsu, melainkan untuk tidur yang berlebihan.
  • Kita sering merasa cukup hanya dengan beberapa rakaat tarawih yang ringkas, lalu merasa telah bebas dari kewajiban, seolah-olah kita telah memberikan segalanya kepada Allah.

Mungkin kita perlu meminta maaf kepada Ramadan. Maaf, karena hati kita telah membatu hingga tak mampu lagi merasakan manisnya ketaatan. Maaf, karena mata kita telah kering hingga tak mampu lagi meneteskan air mata penyesalan saat mendengar ayat:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: ‘Kiranya Kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan Kami…'” (QS. Al-An’am: 27).

Penutup: Menggapai Syafaat di Garis Finish

Ingatlah janji Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang dua pembela kita di pengadilan akhirat kelak:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat pada hari kiamat…” (HR. Ahmad).

Di sisa waktu yang ada, mari kita kumpulkan kembali kepingan-kepingan niat yang sempat berserakan. Jangan biarkan pintu Ar-Rayyan tertutup sebelum nama kita dipanggil di sana. Mari kita bersimpuh dan memohon dengan doa yang sering dipanjatkan para pendahulu kita:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

“Wahai Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, ruku’ dan sujud kami, kekhusyukan dan ketundukan kami. Sempurnakanlah segala kekurangan kami, ya Allah, wahai Dzat yang Maha Penyayang.”

Semoga Ramadan tahun ini tidak sekadar lewat sebagai ritual lapar dan haus, melainkan menjadi saksi yang akan membawa kita ke surga-Nya. Aamiin Yaa Mujibassaailiin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *